Thursday, April 28, 2016

Alur Pelayanan Nikah dan PP 48 Tahun 2014

Dirjen Bimas Islam merelease alur pelayanan nikah sesuai dengan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No 48 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 2004 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Agama.

Dirjen Bimas Islam Machasin mengatakan, PP 48/2004 mengatur bahwa biaya pernikahan hanya terbagi menjadi dua, yaitu: 1) gratis atau nol rupiah jika proses nikah dilakukan pada jam kerja di Kantor Urusan Agama (KUA); dan 2) dikenakan biaya enam ratus ribu rupiah jika nikah  dilakukan di luar KUA dan atau di luar hari dan jam kerja.

Tidak ada biaya lain yang harus dikeluarkan oleh calon pengantin di luar yang sudah ditentukan oleh peraturan tersebut. Pungutan biaya di luar yang sudah ditentukan bisa dimasukan dalam kategori gratifikasi. Pengertian gratifikasi baca di sini.

Untuk memberikan pemahaman dan memastikan tidak ada lagi pungutan biaya (gratifikasi) di luar ketentuan, berikut ini alur pelayanan nikah:
1. Calon pengantin mendatangi RT/RW untuk mengurus surat pengantar nikah untuk dibawa ke kelurahan;
2. Calon pengantin mendatangi kelurahan untuk mengurus surat pengantar nikah (N1 – N4) untuk dibawa ke KUA (Kecamatan);
a) Jika pernikahan dilakukan di luar Kecamatan setempat, maka calon pengantin mendatangi KUA (Kecamatan) setempat untuk mengurus surat pengantar rekomendasi nikah untuk dibawa ke KUA (Kecamatan) tempat akad nikah.
b) Jika waktu pernikahan kurang dari 10 hari kerja, maka calon pengantin mendatangi Kantor Kecamatan tempat akad nikah untuk mengurus surat dispensasi nikah.
3. Calon pengantin mendatangi Kantor KUA (Kecamatan) tempat akad nikah untuk melakukan pendaftaran nikah;
a) Jika pernikahan dilakukan di KUA (Kecamatan), maka calon pengantin tidak dikenakan biaya alias gratis.
b) Jika perikahan dilakukan di luar KUA (Kecamatan), maka calon pengantin mendatangi Bank Persepsi yang ada di wilayah KUA tempat menikah untuk membayar biaya nikah sebesar Rp600.000,- lalu menyerahkan SLIP SETORANNYA ke KUA tempat akad nikah.
4. Calon pengantin mendatangi KUA (Kecamatan) tempat akad nikah untuk melakukan pemeriksaan data nikah calon pengantin dan wali nikah;
5. Calon pengantin melaksanakan akad nikah, di KUA (Kecamatan) atau Lokasi Nikah, untuk kemudian diakhiri dengan penyerahan buku nikah.

Mengenai Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2014 tentang Pengaturan Biaya Nikah dapat diunduh di sini. [Source]

Monday, April 25, 2016

Wanita Hamil di Luar Nikah Cenderung Mudah Melahirkan, Ini Penjelasannya

Bayi in Rahim Mother
Sering sekali kita mendengar terjadi pembuangan bayi, siswi SMA melahirkan di pekarangan atau toilet, bayi dalam kardus dan masih banyak lagi kasus serupa yang terjadi di alam dunia ini. Setelah ditelusuri ternyata mereka adalah gadis yang melahirkan di luar nikah artinya anak dalam kandungan tersebut dilahirkan tanpa adanya ikatan pernikahan.

Mereka melahirkan dengan begitu mudahnya tanpa rasa sakit mendalam, tanpa perlu bantuan dukun bayi atau bidan bahkan masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari ketika mengandung tanpa diketahui masyarakat bahwa dirinya sedang hamil.

Sedangkan di sisi lain, wanita yang mengandung secara halal (dalam hubungan pernikahan) mengalami berbagai peristiwa atau kejadian yang begitu pedih seperti rasa mual, kepayahan ketika menjelang usia kehamilan tua hingga proses persalinan.

Fase-fase tersebut merupakan awal kebahagiaan sejati dimana setelah melewati masa kesulitan dalam kehamilan dan persalinan, sang Ibu merasakan kebahagiaan mendalam melihat sang buah hati bisa lahir ke dunia dengan selamat.

Sedangkan wanita yang hamil di luar nikah cenderung mengalami kemudahan dalam melahirkan dan Allah SWT mencabut pahala dari kesulitannya. Dalam kondisi ini wanita tersebut kembali diuji apakah sang bayi yang dilahirkan dengan begitu mudahnya akan dirawat sebagai tebusan atas dosa-dosa atau dibuang dan menambah dosa tersebut.

Namun banyak diantara mereka yang memilih jalan keluar dengan cara membuang bayi baru dilahirkan dan ada juga bayi dibuang dalam kardus. Semoga Allah mengampuni dosa kita semua yang masih sering berbuat dosa. Aamiin.