-

Ketika Salon Thailand Berdiri Samping Rumah


Terbentuknya Asean Economy Community 2015 (AEC2015) merupakan proses dimana terbukanya pangsa pasar se Asean secara bebas. Hal ini akan berdampak pada persaingan yang sangat ketat, dimana kualitas dari produk dan jasa sangat berpengaruh besar bagi kelangsungan usaha. Guna mempersiapkan diri dalam persaingan bebas di kawasan ASEAN, tentu saja harus ada sinergi antar stakeholder seperti pemerintah, pelaku usaha, kalangan akademisi dan insan media agar mampu membuat satu inisiatif mengenai standar kualitas pelayanan maupun produk di AEC2015.

Salah satu wacana yang akan menyelimuti dan mungkin bisa menjadi beban pikiran bagi pelaku usaha Indonesia khususnya dibidang jasa salon. Pertumbuhan salon dan spa memang sedang menjamur di Indonesia, sebuah pasar yang subur bagi pelaku usaha yang bergerak di bidang jasa kecantikan ini. Salon dalam pandangan majemuk awam, merupakan tempat di mana seseorang berias guna mendapatkan kecantikan. Salon juga bagian dari seni, seperti riasan (make-up), potong rambut dengan berbagai mode (hair cut) dan lain-lain.

Apabila melihat tema dari lomba blog yang diselenggarakan @aseanblogger dengan #10daysforASEAN "Bagaimana kalau di sekitar perumahan kamu banyak berdiri salon-salon Thailand yang profesional dan mempunyai sertifikat tingkat internasional apakah akan menggeser salon lokal ? Apa analisismu ?", tentunya ada dua sudut pandang yang bisa kita jabarkan di sini. Pertama kita memposisikan diri sebagai seorang konsumen, di mana sebagai manusia khususnya wanita tentu mendambakan kecantikan sesuai dengan trend masa kini dengan patokan dandanan artis. Apalagi kaum remaja terutama gadis ABG, dengan pemikirannya yang labil.dan ingin selalu tampil gaya, pasti jadi sasaran empuk salon-salon yang memiliki berbagai desain mode kecantikan. Ketika AEC2015 nanti benar-benar sudah terlaksana, tentu sebagai konsumen akan memilih salon yang memberikan pelayanan prima dengan standar kualitas terbaik, dan tentu saja produk jasa yang dipilih juga akan memiliki trend dengan gaya keunikan tersendiri. Mengenai selera asal perihal "Jangan menjadi tamu di negeri sendiri", itu pribadi masing-masing personal bangsa.

Kedua melihat dari sudut pandang seorang pebisnis yakni pengusaha salon itu sendiri, tentu ini sebuah ancaman yang harus benar-benar diperhatikan secara teknis. Pengusaha harus mempelajari sisi keunikan dan kelebihan mereka, apa yang menjadi standar pelayanan mereka sehingga begitu ketatnya mode persaingan kita harus ekstra pasang aba-aba siaga. Persaingan kita dengan salon Thailand, tentu berlatar social culture budaya yang berbeda. Apalagi target pemasaran salon ada di negeri kita sendiri, tentu harus bisa menerka apa yang konsumen butuhkan. Pengusaha yang baik dan mencintai negerinya, tentu akan memperkaya seni-seni di bidang salon sesuai dengan culture di negerinya tanpa harus terbawa arus. Maka mencegah terjadinya gulung tikar karena ketatnya persaingan, standar pelayanan serta inovasi harus terus ditingkatkan agar bisa bertahan di era kebebasan terutama di kawasan ASEAN.





Sedia Blangkon dan Keris serta Propolis juga Biyang untuk kesehatan terhadap berbagai penyakit. Kontak 085871265667


Previous
Next Post »

1 comments:

Click here for comments
August 26, 2013 at 6:27 PM ×

Social Culture, itu keywordnya buat salon lokal tetep unik dan punya pasar yang loyal

Selamat Efi Fitriyyah dapat PERTAMAX...! Silahkan antri di pom terdekat heheheh...
Balas
avatar
admin

Silahkan berkomentar tetapi dengan santun.

Buat yang pengen lihat kehebohan kami di Youtube, silahkan lihat di sini https://goo.gl/FQGQku atau https://goo.gl/1ufXwB Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Thanks for your comment