Thursday, May 30, 2013

Kopi Merapi Bikin Melek Sepanjang Malam

Kopi Khas Merapi (Coffe Vulcano Merapi)

Rabu siang 29 Mei 2013 saya bersama Pak Sarjuni dari PMI Cabang Sleman serta beberapa kawan relawan dari PMI Sumatera Selatan dan Bengkulu, meluncur ke arah lereng Merapi guna melihat sejauh mana dampak letusan gunung berapi yang sangat aktif di Pulau Jawa ini.

Terkait dari merapi dan Temu Karya Nasional di Selorejo Malang 23-30 Juni 2013 nanti, komunitas Voltage (Relawan PMI Masa Depan) akan menggelar sebuah booth atau lapak guna memperkenalkan berbagai kopi dari penjuru tanah air. Para relawan yang hadir entah itu peserta maupun panitia bisa turut serta menikmati kopi dengan cita rasa yang bisa bikin mata melek.

Mr. Sipke de Schiffart, Mbah Parto dan Mr. George

Sebagian besar dari kita tentu belum mengenal kopi dari Merapi, yang merupakan sebuah komoditas kopi khas dari perbukitan di lereng Merapi ini dengan cita rasa yang begitu menantang dan tersedia dalam varian original, robusta dan jahe instant Merapi. Kopi Merapi pertama kali diciptakan oleh Mbah Parto dan telah diteliti oleh dua orang dari Belanda yakni Mr. Sipke de Schiffart (Ahli tester kopi dunia) dan Mr. George (Ahli Pertanian Organik).

Kopi Merapi Original

Kopi Merapi Robusta dan Kopi Merapi Jahe
 
Kopi Merapi bersama Bangmisno

Sobat relawan tampaknya belum lengkap bila tak menikmati kopi organik dari lereng gunung Merapi ini, dan tentu saja sobat relawan PMI bisa mendapatkannya di kedai kopi Voltage saat Temu Karya Nasional di Selorejo Malang 23-30 Mei 2013 nanti.

Monday, May 27, 2013

Volunteer Bantul Siap Terjunkan Kendaraan Segala Medan di Temu Karya Nasional

Hardtop Jeep Hibah Mas Tutur Prianto Relawan PMI Bantul yang meninggal di Merapi
Relawan merupakan ujung tombak kegiatan Palang Merah Indonesia, karena itu mereka harus dibekali dengan berbagai keterampilan guna kelancaran tugas di lapangan. Selain itu refreshing dalam ilmu kepalang merahan juga harus dilakukan sesering mungkin dalam menunjang kesiapan di setiap keadaan.

Skil saja tak cukup untuk menunjang semua itu, dan harus didukung berbagai sarana dan prasarana yang memadai. Salah satunya kendaraan segala medan berupa Hardtop yang bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan di medan berat.

PMI Bantul pun memiliki sebuah kendaraan medan berat (hardtop) seperti di bawah ini dan siap diterjunkan di Temu Karya Relawan Nasional di Selorejo Kabupaten Malang 23-30 Juni 2013.



Tampak Samping Kanan

Dashboard dan kemudi hardtop

Hardtop nampak dari dalam.

Mari kita gunakan segala fasilitas prasarana yang ada agar lebih bermanfaat untuk orang banyak. Menumpuk aset apapun itu harus bisa digunakan dan bukan sekedar jadi pajangan. Hardtop ini akan difungsikan kembali sesuai kegunaannya sekaligus sebuah pembuktian bahwa para relawan Bantul akan selalu mengenang jasa-jasamu di dunia kemanusiaan. Menggunakan Hardtop ini juga bagian dari cara untuk mendoakanmu di alam barzah sana. Siamo Tutti Fratelli. Siapa berani coba Hardtop ini? :-) See you in Selorejo, Malang, Jawa Timur.


Sunday, May 26, 2013

Pantai Goa Cemara Bantul Perlu Pembenahan

Pantai Goa Cemara


Berkunjung ke Kabupaten Bantul yang terletak di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini, terasa kurang lengkap rasanya apabila tidak mengunjungi pantai-pantai yang ada di sana. Salah satu yang paling terkenal yakni Pantai Parangtritis dan terletak di Kecamatan Kretek.

Parangtritis yang letaknya di Kecamatan Kretek ini bisa kita tuju dengan menggunakan bus dari terminal Giwangan, lurus ke arah selatan dan tertuju langsung ke arah Paris ini. Namun selain dari Paris juga ada pantai lain yang tak kalah menariknya, salah satunya bernama Pantai Cemara atau goa Cemara.

Mas Bom Doank berfose diantara pohon Cemara yang laksana goa

Kondisi dari pantai atau goa cemara ini memang cukup menarik untuk dijadikan tujuan wisata, akan tetapi terdapat dua hal yang menurut saya perlu dibenahi. Salah satunya adalah terdapat banyaknya sampah yang bertebaran serta kondisi pantai yang curam akibat abrasi air laut sehingga perlu pembenahan dalam bentuk tindakan nyata penanaman hutan bakau (mangrove).

Pantai Goa Cemara bertebaran sampah

Curamnya Pantai Goa Cemara akibat minimnya hutan bakau dan abrasi air laut
Permasalahan tersebut tentunya harus segera ditindak lanjuti dengan respon cepat agar kondisi di pantai ini bisa kembali menarik minat pengunjung dengan lebih banyak lagi. Tentunya meningkatkan kesadaran akan kebersihan lingkungan dengan membuang sampah di tempatnya, serta tanam hutan bakau guna mencegah abrasi agar pantai bisa diselamatkan.
 

Goa Cemara Nampak Indah Berjajar Pepohonan dan Tampak Mercusuar


Bila sobat ingin berkunjung ke Pantai Goa Cemara ini, bisa menghubungi saya untuk mengantarkan secara langsung ke lokasi tujuan. Tentu bila membawa satu atau dua bibit pohon bakau sangat kami hargai sebagai tanda cinta lingkungan dan kepedulian terhadap terciptanya dunia yang sejuk nan rindang.

Saturday, May 25, 2013

Maaf Niar Aku Kangen Njenengan Je

Weitss,, Kangen judule. Lha iyo tho. Sajake iki kelingan sama blogger manis pemilik gingsul asal Sidoarjo yang kukenal di ABFI 10-12 Mei 2013 yang lalu. Kangen karena sudah pernah bertemu termasuk berfoto bersama, tentu pengalaman yang asyik karena kenal di sebuah kereta api uap peninggalan jaman belanda.

Awalnya sih kaget lantaran saat berfoto dia yang notabene suka banget difoto langsung pasang senyum saat kutorehkan hp kamera tepat ke wajahnya. Bermodalkan gingsul yang membuatnya manis saat tersenyum, daku pun langsung spontan berujar "Duuh manis bangeeet". Masih ada koq rekaman saat itu karena memang ku buat dalam format video kala itu.

Hehe suatu perjumpaan yang sangat menarik memang, dan anehnya saat itu ku ajak kenalan dia tapi lupa namanya (lha wong berisik banget soale tiap 5 detik klakson kereta berbunyi). Duduk manis tepat di sampingnya sembari ngobrol singkat, lantaran saat itu aku masih terobsesi untuk mengambil chapter yang ada di tiap sudut jalanan Slamet Riyadi.

Kereta yang melaju pelan ini pun berhenti di Stasiun Solo Kota, sembari menunggu sang masinis memutarkan lokomotif kami pun jepret sana sini tentunya dengan penuh senyum tawa. Masih bersama Niar tentunya saya berfoto bersama lagi di depan pintu stasiun.

Masih teringat jelas semua kenangan itu dan tentunya sekali waktu saya sempatkan tengok macam video dan photo yang aku jepret saat bersama Niar. Rasa rindu kangen atau apalah ora ngerti sing jelas pengen ketemu. Kangen yang muncul saat membuka grup facebook ABFI dan sekilas tengok foto sampul grup tersebut, secara tak sadar lihat foto niar ketika kami beramai-ramai usai penutupan.

Ternyata lokasi aku duduk tak jauh berada dengan si manis Niar Ningrum, hanya dibatasi seorang saja yang ibarat pion membentengi kami berdua. Segar dalam ingatan pula sih saat semua bubar, ku masih melihat anda menyapa Niar karena dia juga di belakang.

Namun entah kenapa koq aku tak memanfaatkan kesempatan yang menurutku bisa berdua lebih lama untuk ngobrol bareng. Sembari berfikir aku seolah menangkap sinyal bahwa dia juga ingin ngobrol-ngobrol denganku, namun ku hanya sekedar menegur sapa dan berbincang singkat.

Bukan karena aku malu atau apa, tapi lebih karena aku bingung saja dengan apa atau kalimat apa yang harus kukeluarkan untuk menegur sapa dengannya. Maybe masih agak malu juga lantaran belum begitu paham banget dengan dirinya yang manis itu. Semoga kami bisa berjumpa lagi dalam kesempatan yang bahagia, tentunya ku berdoa supaya kita saling mendoakan dan merindukan.

#Salam Saudaraku di ABFI
Notes: Postingan ini sengaja saya pindahkan ke sini biar gak kelacak Niar, sejatinya aku kangen ma dia je. Semoga Allah meridhoi. Aamiin.
Jual Blankon Model Solo dan Jogja, Hubungi Bangmisno 085221882886

Lontong Opor Menu Pagi Voltage

Lontong Opor Masakan Mba Latifah at PMI Bantul
Berada di Markas PMI Bantul selama dua hari nampaknya mengobati rasa kangen yang selama ini dirasakan. Sempat menjadi gundah gulana lantaran rasa kangen itu memuncak hingga tertuangkan ke dalam sebuah tulisan. Apa daya lantaran sudah lima tahun tidak berkunjung dan bermalam di Bantul tercinta ini.

Kini saya dan kawan-kawan komunitas Voltage selama dua hari menikmati kehangatan DIY di Markas PMI Bantul dengan agenda utama rembug relawan terkait berbagai permasalahan yang komplek dan berkepanjangan.

Alhamdulillah rembug yang diawali kemarin pagi oleh mas Tri Sugiarto dari Semarang dan beberapa moderator lainnya dengan perwakilan sekitar 4 orang dari PMI Pusat antara lain Dedi, Ahmad, Yani dan satu lagi lupa namanya.

Semoga hasil rembug relawan tersebut bisa dibawa ke Munas 2014 di Bali untuk kemajuan PMI yang lebih baik sebagai organisasi kemanusiaan. Minggu pagi ini kami para relawan masih bersantai ria guna persiapan ke pantai sekedar refreshing dan menjernihkan pikiran.

Eko (Kriwil) Suprianto Saat Menikmati Lontong Opor

Nampaknya perjalanan bakalan menyenangkan karena perut sudah terisi dengan opor lontong yang dimasak oleh mba Latifah beserta rekan-rekan relawan PMI Bantul. Sebuah menu yang baru saya rasakan selama di Bantul ini dengan kolaborasi kentang goreng yang dipotong berbentuk kotak, daging ayam yang disewiri, bakwan goreng dan tentunya lontong sebagai menu pokok.

Nasi Goreng Cuma Tiga Ribu di Sudimoro Imogiri Barat

Informasi yang sangat berharga ini saya dapatkan langsung semalam dengan mengunjungi warung makan nasi goreng yang terletak di Jalan Imogiri Barat tepatnya daerah Sudimoro. Letak warung nasi goreng ini persis samping warung online kedai Joglo.

Bersama rombongan relawan Voltage yakni sebuah komunitas relawan PMI yang berusaha mencari solusi atas keluhan yang tidak ditanggapi oleh pihak pengurus itu sendiri. Komunitas voltage ini dengan sukarela berkumpul di Bantul DIY mencari titik temu atas keluhan dan permasalahan di berbagai daerah guna menyusun satu visi dan misi PMI.

Salah satu bahasan yang ditemukan adalah mengenai permasalahan antara relawan dengan pengurus. Dalam hal ini pengurus merasa benar sementara relawan juga merasa benar, tetapi mereka tidak pernah bertemu guna membuat sebuah solusi. Akhirnya timbullah berbagai wacana yang mereka bawa ke dalam grup digital voltage ini.

Sembari  istirahat usai maghrib kami berburu makanan untuk mengisi perut yang sudah lapar ini. Seorang dokter Seno yang merupakan dokter asal Surabaya menjadi pemandu kuliner kali ini dengan mengarahkan kami ke sebuah warung makan nasi goreng di Sudimoro, Jalan Imogiri Barat.

Di tempat ini kami memesan berbagai minuman seperti teh manis panas, es teh dan nasi goreng tentunya dengan ditambahkan telur atau hati empela ayam sesuai selera masing-masing. Saya pun pesan nasi goreng pakai telur tetapi setelah menunggu lama ternyata habis, dan akhirnya pesan nasi goreng pakai daging.

Alhamdulillah setelah bersabar selama satu jam saya bisa makan nasi goreng yang murah ini. Hanya dengan tiga ribu rupiah saja dan teh manis cukup dengan total sama nasi gorengnya menjadi lima ribu. Perut pun terasa kenyang dan tiduran sejenak sebelum akhirnya pulang pas jam 10.

Point Penting Hasil Rembug Voltage Terkait Weblog

Rembug relawan yang berlangsung sejak pagi tadi tepatnya jam sembilan telah menghasilkan berabgai point penting terkait pengembangan relawan Palang Merah yang tergabung dalam komunitas group virtual Voltage.Berdirinya voltage ini dilandasi atas permasalahan di Surabaya yang ditembuskan ke PMI Daerah Jatim namun tidak ada tanggapan.
 
Akhirnya pihak Cabang pun meneruskannya ke PMI Pusat, akan tetapi hal yang mengejutkan adalah saat menerima jawaban bahwa dari pihak daerah tidak ada masalah apapun. Akhirnya dari permasalahan itu, pihak cabang memutuskan untuk membuat komunitas grup digital di facebook.
 
Dalam perbincangan di fanspage tersebut pun ternyata banyak menimbulkan wacana-wacana terkait permasalahan di berbagai PMI daerah maupun cabang. Hal ini memaksa kami para komunitas voltage untuk membuat suatu penyelesaian dengan cara rembugan.
 
Acara yang bersifat formal namun dikemas dengan cara santai, membuat kami merasa lebih rileks dalam memusyawarahkan berbagai point penting yang terjadi di tiap-tiap daerah. Salah satu hasil rembug relawan yang terkait bidang IT yakni bahwa akan dibentuk portal web guna menshare berbagai informasi tentang palang merah di berbagai daerah.

Para anggota voltage usai membuat akun diportal ini nantinya bisa memposting sebuah artikel guna dibagikan kepada para pembaca maupun anggota portal voltage. Tentu saja diharapkan dengan berkembangnya portal ini bisa memicu kreativitas anggota dalam memanfaatkan teknologi web sebagai media berbagi informasi dan pengetahuan.

Selain itu forum rembug relawan ini juga menyepakati akan membuat akun twitter guna menshare url portal dari tiap artikel baru yang diterbitkan. Twitter ini juga akan berfungsi sebagai alat komunikasi terhadap para anggota voltage secara real and uptodate.

Friday, May 24, 2013

Trip Semalam ke Jogja Menggunakan Sepeda Motor

Perjalanan panjang dari Ciamis ke Jogja dalam waktu kurang lebih 8 jam dengan kecepatan santai yakni 50 km/jam melelahkan sangat bagi saya. Walau pun demikian saya bersyukur bisa sampai di lokasi dengan selamat dan menunggu waktu untuk persiapan musyawarah antara relawan dengan pengurus PMI.

Berangkat tepat jam 19.45 wib per tanggal 24 Mei 2013, saya berpamitan dengan mengantongi berbagai peralatan mulai dari netbook, blekberi sebagai alat rekam gambar dan beberapa pakaian pengganti selama dua hari di jogja.

Usai berkemas langsung saja aku nyalakan sepeda motor vega ZR dengan nopol  R 3703 WD berwarna merah. Saya sediakan pula helm guna pembonceng bila di perjalanan bertemu seseorang yang ingin ndompleng, eh sejatinya sih ada teman pak Itong dari Kebumen yang ingin bareng.

Berangkat sudah dan meninggalkan rumah untuk 2-3 hari melewati kuburan yang terkenal banyak penghuni kubur alias orang yang dikubur di dalamnya. Sesampainya di pasar jamban, saya mampir ke toko untuk membeli sebotol mizone dan proman.

Akhirnya sepeda motor pun kupacu kembali dengan perlahan dan santai lantaran saya merasa cukup kedinginan karena tak mengenakan sarung tangan. Sembari mengawasi berbagai sudut jalan yang berlobang antara perempatan sidareja hingga kantor pos sidareja, akhirnya sampai di pom bensin tentunya melewati palang pintu perlintasan kereta api dan menunggu kereta tersebut lewat.

Mengisi bensin sebanyak 15 ripu rupiah cukup untuk memenuhi isi tank bahan bakar sepeda motorku ini, dengan mengenakan masker kembali melaju lewati Gandrungmangu, Kawunganten dan berhenti sejenak di Jeruklegi guna minum air sejenak.

Lanjut deh petualangannya dengan lewati daerah kreweng - lebeng yang terkenal masih banyak kerusakan lantaran tanah di tempat tersebut labil.Akhirnya Kesugihan pun menyapa dengan keramaian lingkungan pondok dan maos sudah nampak sepi.

Ternyata di maos ini aku menghirup sebuah aroma yang tak asing dan sangat aku suka, yakni mendoan anget. Sudah menjadi langganan setiap berada di Banjarnegara kalau setiap minggu malam nongkrong di perempatan semampir makan mendoan dan secangkir kopi.
 
Bernostalgia dengan keadaan tersebut tanpa lelah akhirnya aku sudah sampai di daerah Sruweng Kebumen. Berhenti di sebuah warung kopi pinggir jalan yang lebih tepatnya angkringan namun nasi kucingnya sudah habis dan cuma tersedia mie telor rebus.
 
Akhirnya aku hanya memesan segelas kopi rasa mocca yang juga merupakan kesukaan bagi diriku, dengan kondisi yang masih panas ku sruput saja menggunakan sendok. Kopi habis aku pun langsung bayar 2ribu, tancap kembali deh walau di perjalanan banyak berhentinya karena ngantuk.
 
Lelah tentu sudah menjadi teman sejati selama perjalanan, hingga kini saya sudah berada di PMI Bantul sejak jam 4 subuh tadi. Tidur selama satu jam nampaknya sudah membuat tubuh saya bertambah sedikit tenaga untuk memulai rembug relawan.

Thursday, May 23, 2013

Budaya dan Kearifan Lokal

Waktu menunjukkan hampir jam sebelas kurang tiga puluh menit dan saya merasa agak sedikit khawatir akan terlambat di acara ABFI nantinya. Namun kepanikan yang melanda ini tak bertahan lama rupanya, lantaran bus yang akan saya tumpangi yakni armada PRAYOGO sudah bersiap untuk meluncur ke arah Jogjakarta.



Armada Prayogo yang akan mengantar saya Purwokerto - Jogja


Walau armada ini memiliki trayek Purwokerto - Jogja - Solo, tetapi dalam kenyataan kemarin hanya mengantarkan saya sampai terminal Giwangan Jogjakarta saja. Sementara perjalanan ke arah Solo dioper (istilah bus) ke armada lain yang bertujuan ke Solo. Memang kami para penumpang yang dioper tidak ditarik ongkos transportasi kembali, dengan catatan harus menunjukkan kertas tiket yang diberikan kondektur Prayogo tadi.

Armada Prayogo yang bernopol AB 2994 BE


Armada yang bernomor polisi

Wednesday, May 22, 2013

Mengamati Situasi Terminal Purwokerto dan Waspada Calo

 Amati Situasi Terminal Purwokerto
 
Bila mengingat tulisan saya terakhir ending tentang perjalanan menuju Purwokerto, pasti banyak yang mengira kalau endingnya suatu kegalauan. Tentu saja karena saya bertemu seorang gadis manis sesama pelajar SMA waktu itu, tapi sayangnya kami berbeda bis dan sama-sama melaju tanpa bisa bertemu secara face to face guna bersalaman.

Sudahlah kita lupakan saja toh itu kenangan lama yang jujur sih masih berharap buat menemukan sosok gadis tersebut walau entah dimana kini. Sembari mencari ide lain tanpa harus flashback saya tengok kanan tengok kiri (macam mau menyeberang jalan saja), ku tampak mendapati begitu banyak toko-toko yang ada di pinggiran jalan sepanjang Ajibarang - Cilongok hingga Karang Lewas.

Perlahan bus pun mulai memasuki daerah perempatan Tanjung hingga akhirnya melewati terminal lama Purwokerto yang entah dimanfaatkan sebagai bangunan apa dan aku pun belum tahu itu. Perjalanan yang memakan waktu dua jam lebih ini pun sampai juga di perempatan pasar wage dan di situ sudah mulai tampak penumpang turun ke pinggir jalan.
 
Selang 2 menit kemudian bus armada ASLI yang menghubungkan Sidareja dengan Purwokerto ini pun memasuki gerbang utama terminal baru Purwokerto yang beroperasi 24 jam setiap harinya. Semua penumpang pun turun dan masing-masing orang langsung meluncur ke bus tujuan selanjutnya yang tersedia di berbagai sudut terminal.

Sudah barang tentu para calo terminal menawarkan berbagai trayek tujuan kepada para penumpang yang baru turun dari bus. Calo ini mendesak para calon penumpang agar mau mengakui bahwa dirinya akan ke mana, namun saya berbohong bahwa akan duduk saja di sini. Padahal sedang amati sih situasi terminal yang sudah lama tak saya kunjungi, karena seringkali saya pergi ke Banjarnegara mengendarai sepeda motor tanpa melewati Purwokerto ini.

Para tukang karcis ini eh para calo maksudnya (karena bawa struk tiket layaknya tukang karcis) apabila sudah mendapatkan orang yang ingin naik bus, si calo ini mengikutinya dan mengarahkannya langsung ke bus yang dimaksud. Tidak berhenti di sini saja, calo-calo ini juga langsung menyodori penumpang dengan secarik kertas yang sudah ditulis biaya ongkosnya.

 
Sempat Jepret Seorang Calo Membawa Kertas Tiket Usai Beraksi
 
Tentu saja bagi yang belum berpengalaman dan baru pertama kali bepergian di terminal Purwokerto ini, dia akan langsung menerima secarik kertas tersebut dan diminta langsung membayar biaya perjalanan tentu saja dengan harga yang lebih mahal. Ibarat kenaikan harga saat menjelang lebaran, ongkos yang diberikan oleh sang calo menjadi 50% lebih mahal ketimbang harga normal.

Jadi berhati-hati ya apabila sobat semua ingin bepergian tapi harus transit di terminal Purwokerto ini, walau dari segi keamanan sudah kondusif (berdasarkan informasi yang didapatkan dari seorang supir). Namun yang namanya calo ya tetap ada, karena mau dari mana lagi mereka dapatkan rejekinya. 
 
Sekedar mengingatkan kembali bahwa modus calo dengan menanyai perjalanan kita, diarahkan dan diantar langsung sampai tempat duduk di dalam bus, disodorkan tiket dan langsung harus bayar, udah sih gitu aja. kalau ciri-cirinya si calo ini dalam teriak-teriak cari penumpang sambil membawa kertas tiket yang dipegang slalu ditangannya. Semoga bermanfaat ya kawan.

Sunday, May 19, 2013

Memahami Sejarah Keraton Kasunanan Surakarta

 Gerbang Utama Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Merupakan suatu pengalaman pertama bertamu langsung ke Keraton Kasunanan Surakarta bersama para blogger Asean di Solo hari minggu tanggal 12 mei 2013. Perasaan gembira tentu saja menyelimuti hati dan pikiran kami, betapa beruntungnya kami yang bisa hadir dalam Asean Blogger Festival Indonesia (ABFI) ini.

Perjalanan kami awali dengan menaiki kereta api uap yang melaju dari Stasiun Purwosari hingga ke Stasiun Solo Kota dan manuver menuju Galabo. Dari Galabo ini kami sengaja jalan kaki menuju kampung batik Kauman dan menyusuri jalanan melewati pasar Klewer yang terkenal dengan batik murah berkualitas hingga di Gerbang Keraton Kasunanan Surakarta.

Ada sekitar 12 orang yang sudah sampai di area depan Keraton Kasunanan Surakarta ini, sedangkan yang lainnya masih menikmati agenda car free day termasuk juga mereka yang sedang belanja dan naik kereta api uap.

Rupanya selang beberapa menit kemudian vice president Asean Blogger chapter Indonesia mas Amril sudah hadir di gerbang depan keraton. Namun saat kami ingin memasuki areal keraton melalui gerbang depan ini, para abdi dalem yang mengenakan batik lengan panjang meminta surat ijin dari keraton sebagai tanda masuk.

Bukan maksud mereka mempersulit para blogger ini, tetapi merupakan sebuah peraturan yang sejak lama digunakan oleh pihak keraton. Akhirnya abdi dalem tersebut menyarankan kepada kami melalui perwakilan guna meminta surat ijin dari keraton tersebut.

Mas Amril yang kebetulan saat itu bersama kami, langsung menelpon ke panitia lokal yakni panitia dari kawan Bengawan.org tentang masalah ini. Akhirnya setelah dilakukan musyawarah oleh pihak terkait yakni panitia dan pihak keraton, para blogger Asean ini diperkenankan masuk.

Lega rasanya sudah bisa memasuki areal Keraton Kasunanan Surakarta ini, dan menjadi perhatian pula bagi kami khususnya saya pribadi bahwa memasuki keraton itu nggak sembarangan.. Harus paham etika dan sopan santun, akhirnya koordinasi pun harus benar-benar dikomunnikasikan agar hal ini tidak terulang kembali.


Unggah-Ungguh dalam Keraton Kasunanan Surakarta
Bertamu ke dalam Keraton itu ternyata jauh berbeda dengan kita silaturahmi ke tempat saudara atau pun pejabat. Keraton Kasunanan Surakarta ini memiliki peraturan khusus yakni bahwa setiap laki-laki maupun perempuan yang ingin bertamu ke Keraton harus mengenakan sepatu atau nyeker. Sedangkan bagi wanita harus memakai jarit, kebaya, rok atau hanya sekedar selendang yang lingkarkan di badan.
Bila dikaji lebih dalam apa yang diminta atau lebih tepatnya syarat masuk ke dalam keraton ini merupakan bentuk budaya yang berusaha memanusiakan manusia untuk kembali kepada kodratnya. Contoh saja dengan kita disarankan nyeker merupakan pertanda bahwa kita itu harus selalu menyatu dengan bumi, bukan merusaknya. Memakai sepatu merupakan perlambang bahwa kita harus selalu berpenampilan rapih dan sopan.
Sedangkan bagi kaum perempuan yang bercelana panjang disarankan memakai rok atau mengenakan selendang yang dilingkarkan ke badan, itu merupakan bentuk ajakan kepada kaum perempuan agar kembali kepada kodratnya bahwa perempuan hendaknya memang berpakaian demikian sebagai pembeda antara laki-laki dan perempuan.
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

 Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Melewati pintu demi pintu setinggi lima meter lebih akhirnya kami tertuju sudah di areal utama Keraton Kasunanan Hadiningrat. Sembari berfoto-foto di halaman keraton, kami sempatkan melihat-lihat berbagai benda pusaka maupun patung-patung yang terpajang di berbagai sudut.

Suatu pengalaman yang sangat berharga hingga kami syukuri bahwa ini merupakan kesempatan langka. Kesempatan yang jarang kami dapatkan mengingat bila sengaja ingin mengunjungi Keraton belum tentu ada niat, lagipula tanpa pemandu juga nggak bakalan sampai.

Menapaki pasir menuju aula penutupan ABFI

Menapaki pasir-pasir merapi yang bertebaran di halaman keraton tersebut, kami langsung merapat ke dalam sebuah ruangan yang entah diberi nama apa karena lupa tidak mencatat. Sembari menunggu peserta Asean Blogger berkumpul semua, kami dihibur dengan alunan musik keroncong dan gamelan dari dalam ruangan ini.

 Mas Novi sedang membacakan sambutan upacara penutupan ABFI 2013

Akhirnya penantian pun berakhir saat pembawa acara memulai upacara penutupan ini, yang diawali dengan sambutan oleh ketua panitia ABFI yakni mas Novianto Puji Raharjo. Setelah itu Kanjeng Ratu Kasunanan Surakarta memaparkan tentang sejarah keraton ini kepada ratusan blogger di ruangan tersebut. Berbagai penjelasan kami simak dengan khidmat dan penuh antusias.

Kanjeng Ratu sedang membacakan sejarah Keraton


Mengenai Keraton Kasunanan Surakarta itu sendiri merupakan tempat tinggal raja beserta keluarga besarnya. Keraton ini memiliki nama resmi yakni Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan merupakan cikal bakal lahirnya Kota Solo.

Sunan Paku Buwana II

Pembangunan keraton ini dimulai pada tahun 1745 oleh Sunan Paku Buwana II dan merupakan pengganti keraton di Kartasura yang hancur karena peristiwa Geger Pacinan tiga tahun sebelumnya. Keraton ini bukan hanya sebagai simbol kekuasaan, tetapi juga merupakan tempat tinggal yang terdiri dari berbagai bangunan laksana sebuah kompleks.

Bangunan dalam komplek keraton yang saat ini kita lihat, pembangunannya tidak berlangsung dalam satu periode melainkan berjangka hingga terselesaikan saat kepemimpinan Paku Buwana X yang berkuasa tahun 1893-1939. Arsitektural bangunan keraton ini kental dengan gaya eropa yakni dominan warna putih dan biru mengingat masa itu terdapat keterlibatan pihak pemerintah kolonial Belanda.

Kompleks keraton ini terdiri dari berbagai bangunan yang meliputi Alun-alun Lor, Alun-alun Kidul, Sasana Sumewa, Sitihinggil Lor, Sitihinggil Kidul, Kamandungan Lor, Kamandungan Kidul, Sri Manganti Lor, Sri Manganti Kidul, Kedhaton dan Magangan. Kompleks ini dikelilingi bangunan tembok setinggi lima meter dengan ketebalan lima meter dan berfungsi sebagai benteng pertahanan.

Halaman istana keraton ini memiliki sebuah bangunan bernama Panggung Sanggabuwono, dan memiliki sejarah misterius lantaran ceritanya merupakan tempat bertemunya raja dengan penguasa laut selatan yaitu Nyi Roro Kidul.
Kini Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat diresmikan menjadi cagar budaya yang dilindungi pemerintah dan merupakan objek kunjungan wisata budaya. Selain itu terdapat pula warisan budaya lain seperti upacara adat (Grebeg, Sekaten dan Malam Satu Suro), tarian sakral dan benda-benda pusaka.

Kegiatan upacara adat seperti yang saya jabarkan di atas diresmikan oleh Pemerintah Kota Surakarta sebagai kalender tahunan. Demikian berbagai kalimat mengenai penjabaran tentang Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, semoga menambah wawasan para pembaca.

Menikmati Pesona Menuju Purwokerto

Saat bus mulai melaju menuju Purwokerto

Alhamdulillah akhirnya bus armada ASLI yang memiliki trayek Sidareja - Purwokerto mulai berpacu di jalanan aspal. Tepat jam 07.24 wib di hari kamis pas tanggal 9 Mei 2013, bus yang melewati rute Cinangsi - Karangpucung - Lumbir - Wangon - Ajibarang - Cilongok - Karanglewas  hingga ke terminal Purwokerto melaju dengan kecepatan rata-rata 50km/jam.

Sembari berfoto-foto berbagai situasi yang dilewati dalam perjalanan, saya ngobrol sejenak dengan kondektur bus yang terlihat ramah maupun dengan para penumpang yang duduk samping saya dan notabene adalah nenek tua berumur sekitar 61 tahun.

Kondektur itu menghampiri saya lantaran ingin menarik uang pembayaran alias ongkos bus tersebut, dan saya pun bertanya pula mengenai waktu tempuh dari Sidareja menuju Purwpkerto. Dengan ramahnya sang kondektur pun menjawab bahwa lama perjalanan menuju Purwokerto ini rata-rata 2,5 jam.




Sang sopir dengan fokusnya mengendarai Armada ASLI

Sembari iseng deh foto-foto itu si sopir yang mengenakan kemeja lengan pendek dan bertopi merah. Dengan seriusnya si sopir memperhatikan jalan raya dan melirik ke spion guna memperhatikan laju kendaraan di belakangnya.

Terkadang sang sopir juga harus melihat aba-aba dari para calon penumpang yang berdiri di pinggir jalan. Mereka biasanya melambaikan tangan pertanda ingin menaiki bus, dengan gesitnya si sopir pun menginjak pedal rem.

Rupanya memperhatikan situasi di sekeliling saya membuat diri ini lelah, ditambah lagi tadi malam posting blog sampai jam 1 pagi dan tentunya kurang istirahat. Akhirnya perlahan tapi pasti mata saya terpejam sejenak tentunya dengan memangku tas yang berisi netbook beserta handphone di dalamnya.

Tertidur selama kurang lebih setengah jam dari cinangsi hingga ke lumbir, cukup membuat diri ini merasa lebih segar dan seperti mendapatkan tenaga baru. Kembali deh tangan ini merogoh saku untuk mengambil handphone bermerk blackberry curve 8520 berwarna hitam yang kudapatkan dari lomba live tweet, lalu buka menu dan tertuju ke tombol kamera.

Rupanya kamera tak bisa bertahan cukup lama lantaran batrei handphonenya sudah menunjukkan low pertanda harus segera dicharge. Tertunduk lesu karena harus bisa menghemat energi baterai, saya merogoh saku celana guna mengambil handphone Mito yang berisikan operator Telkomsel.

Kubuka menu pesan dan kuhantarkan message ke Kang Didno yang sedari tadi pagi jam empat telah sampai di Solo. Pesan berisikan pertanyaan mengenai registrasi dan angkot yang dipakai menuju ke hotel Kusuma Sahid. Rupanya Kang Didno bersama kawan gurunya yang bernama Pak Agus Doank diantarkan angkot dengan tarif 10.000.

Pesan demi pesan pun terhantarkan hingga tak sadar bahwa perjalanan sudah hampir sampai, dan saat menengok ke arah jendela rupanya terpampang bahwa rute ke arah kanan menuju purwokerto sementara arah kiri ke arah Tegal dan Jakarta.

Ingat dalam pikiran bahwa ini ternyata Ajibarang, sebuah tempat yang menghubungkan antara Tegal - Bumiayu dengan Purwokerto maupun wilayah selatan Pulau Jawa. Selain itu Ajibarang juga menyimpan kenangan saat saya masih bersekolah dan terdapat seorang penumpang bus di armada yang berbeda. 
 
Penumpang tersebut yang tercatat seorang siswi SMA dengan manisnya memberikan senyuman kepada saya hingga selalu terkenang hingga sekarang. Bila ada kesempatan tentu saja kuajak berkenalan, namun apa daya itu semua sudah berlalu dan hanya kekuasaan Allah saja yang bisa mempertemukan saya dengannya.

Saturday, May 18, 2013

Antara Rumah Hingga Sidareja

Bus Sidareja - Purwokerto Sudah Menantiku


Segala keperluan untuk acara ABFI nanti sudah lengkap dan segera meluncur menuju terminal Sidareja dengan diantarkan adik saya yang bernama Sohibun. Persiapan dalam keamanan berkendara karena menuju terminal tersebut menggunakan sepeda motor, tentu saja kelengkapan surat berupa STNK dan SIM menjadi prioritas utama. 

Spion maupun tutup pentil pun tak luput dari pemeriksaan, karena memang di daerah Jawa Tengah kepolisian setempat dalam merazia kendaraan sangat mendetail. Helm sebagai pengamanan utama dalam berkendara juga tidak ketinggalan dan selalu saya pakai kemanapun tujuannya. Dengan membaca bismillah serta menggetarkan bumi sebanyak tiga hentakkan, roda motor pun mulai dipacu.

Sepeda motor melaju dengan kecepatan standar yakni 60km/jam melewati kerikil-kerikil tajam yang belum mendapatkan perbaikan dari pemerintah, hingga diberbagai sudut jalan terdapat banyak sekali lubangan air yang bisa dimanfaatkan untuk beternak ikan lele.

Bak seorang artis yang akan bepergian jauh, para tetangga pun dengan penuh keheranan bertanya-tanya tentang kepergian saya. Karena kecepatan sepeda motor yang lumayan kencang, aku pun hanya mengangguk sembari memberikan senyum penuh keakraban.

Melewati berbagai sudut desa mulai dari Pasar Jamban - Sapuangin - Pasirungit - Pasar Manganti - Jembatan Bendungan Manganti (Perbatasan Jawa Barat - Jawa Tengah) - Pom Bensin Sidareja hingga terminal Sidareja.

Sembari tengok speedometer karena kecepatan sepeda motornya cukup kencang, tak sengaja saya pun melihat jarum penunjuk bahan bakar yang berada pada level hampir mendekati E. Adik saya yang juga memperhatikan jarum bahan bakar tersebut pun langsung merapat ke Pom Bensin yang letaknya dekat makam tepat 1 km sebelum terminal Sidareja.

Dengan ramahnya sang penjaga pom pun menawarkan jenis pengisian dalam model liter atau nominal tertentu. Akhirnya adikku memutuskan pengisian dengan kategori full yang berarti sesuai dengan muatan tangki yang tersisa.

Ternyata bahan bakar yang dibutuhkan cukup banyak yakni sekitar tiga liter dan segera sang penjaga Pom Bensin memberikan uang pengembalian dari seratus ribu yang diberikan adikku. Lanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa menit lagi dan sampailah kami di terminal Sidareja ini dengan selamat.



Perjalanan Panjang Menuju ABFI



Berbagai pertimbangan akan kehadiran saya di Solo dalam rangka Asean Blogger Festival Indonesia akhirnya membuahkan hasil. Pemikiran akan mekanisme pemberangkatan yang sudah direncanakan sebelumnya ini, nampak begitu mendadak karena memikirkan jarak tempuh serta jenis kendaraan yang akan digunakan.

Detik demi detik berganti menjadi menit bahkan hitungan jam kulalui dengan duduk berlama-lama di depan sebuah netbook putih yang kubeli dari seorang teman semasa SMP. Malam kamis atau tepatnya rabu malam telah menyapa dan saya masih tetap mondar-mandir sembari memikirkan keberangkatan ke ABFI ini.

Pusing memang sudah menjadi resiko dan itu kulewati dengan menulis dalam sebuah blog. Akhirnya pagi hari di kamis yang cerah datang menyapa dengan sinar mentari yang kekuning-kuningan pertanda sinar ultraviolet yang bagus untuk pembakaran vitamin D menyertainya.

Aku pun memutuskan untuk berangkat pagi ini, dan tanpa diperintah berbagai aktivitas rumah seperti packing sayuran matang dan gorengan ku kerjakan. Setiap pagi memang ibuku berjualan gorengan dan sayuran/oseng yang sudah siap saji.

Usai berbenah kuambil sebuah handuk dan sang Ibu pun melihat penuh keheranan karena aku yang biasanya mandi jam delapan pagi, kini sudah pagi sekali mau mandi. Lantas seorang tetangga yang datang membeli sayuran pun ikut menyahut bahwa aku rajin mandi aja dibilangin. hehe

Lantas setelah mandi pun aku bergegas memakai baju seadanya yakni semacam kaos berkerah dan celana katun berwarna hitam serta bersepatu PDH. Macam orang kantoran saja saya dengan rapihnya walau tak mengenakan kemeja, packing netbook dan perlengkapannya serta pakaian pengganti selama di Solo. Batik kemeja pun tak luput saya bawa, mengingat Solo merupakan kota budaya secara harus kubawa ini batik.

Prepare sudah selesai dan saatnya berpamitan, namun lagi-lagi orang tua pun terkejut lantaran saya yang begitu mendadak tanpa aba-aba bahwa akan pergi ke Solo. Orang tua pun bertanya bahwa apakah saya sudah memiliki cukup ongkos buat perjalanan ke Solo? Saya jawab sudah, karena memang ya sudah cukup untuk bekal diperjalanan.

Melangkah menuju pintu keluar, saya kembali berfikir mengenai perhitungan jarak dan waktu tempuh ke Solo. Seorang gadis bernama Cahyaningrum Tri Agustina memaparkan kepada saya mengenai perjalanannya ke Solo, bahwa dari Banjarnegara ke Solo biasa ditempuhnya menggunakan bus umum selama 6-7 jam.

Artinya perjalanan dari Ciamis ke Banjarnegara sendiri bisa ditempuh dengan waktu 5 jam ditambah 7 jam berarti ada dua belas jam yang harus dilewati. Namun apabila menggunakan sepeda motor dari Ciamis ke Jogja seringnya kulewati selama 7 jam, sementara dari Jogja ke Solo itu rata-rata 2-2,5 jam.

Perhitungan tersebut saya gunakan apabila ingin bepergian jauh, tetapi kali ini saya berfikir kembali apabila memaksakan diri menggunakan sepeda motor bahwa resikonya pasti ngantuk dan kecapekan. Ragu-ragu membawa sepeda motor akhirnya kuputuskan meminta adikku mengantarkan ke terminal Sidareja.

Menanti Hujan Turun

Kala senja itu saat diriku terpaku merana dalam kesendirian, datanglah seekor capung yang membawa keindahan melalui sayap-sayapnya. Terbang kesana-kemari seolah mengajak bola mata ini untuk terus menari-nari mengikuti gerak iramanya di udara.

Tanpa terasa terdengarlah suara gemuruh dari atas langit dengan hitam pekatnya pertanda akan turun hujan. Namun sang capung masih saja beterbangan sembari mengajak gerombolan capung yang lainnya untuk terus mencari makanan diantara bunga-bunga yang sedang mekar.

Rupanya awan hitam yang sedari tadi bernyanyi-nyanyi melalui gemuruh petir, tak kuasa menahan beratnya air di atas awan. Perlahan namun pasti percikan air hujan jatuh membasahi bumi, kering tanah ini terbasahi sudah oleh sekumpulan tetes air dari langit sebagai berkah Sang Pencipta.

Bumi pun bersyukur karena telah menelan air kesegaran pembawa kemakmuran bagi dirinya dan tanaman yang terkandung di dalamnya. Pepohonan pun bergerak ke sana kemari mengikuti arah angin yang melaju cukup kencang, pun seolah menandakan terjadinya peralihan musim menuju kemarau.

Entah berapa lama lagi kita masih bisa merasakan nikmatnya air hujan sebagai pembawa berkah, hingga masa kemarau menyapa kita dengan segala keterbatasan yang ada. Mari perbanyak syukur kepada Illahi atas segala nikmat dan karunianya.

Friday, May 17, 2013

Ungah-Ungguh di Keraton Surakarta

 Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Sebuah pengalaman yang jarang sekali saya alami dan rasakan sebelumnya, tak disangka bisa menapakkan kaki di atas batu marmer lantai keraton Surakarta. Bersama ratusan blogger dari seluruh nusantara dan negara perwakilan ASEAN, kami mendapatkan kehormatan untuk menikmati suasana keraton berikut dengan pemaparan mengenai kondisi di dalamnya maupun sejarahnya.

Tentu saja ini suatu kegembiraan yang tak bakal dilewatkan. Berbagai moment yang ada kami lewati dengan foto-foto bersama atau sekedar narsis ria dengan blogger tercintanya (bagi yang lagi naksir-naksiran). Namun ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para pembaca sebelumnya, bahwa masuk keraton itu tak semudah yang kita kira.

Ada unggah-ungguh yang harus diperhatikan dengan baik apabila ingin memasuki area keraton Surakarta ini. Beberapa hal tersebut menjadi perbincangan oleh kami para blogger karena tidak mendapatkan pemaparan sebelumnya. Unggah-ungguh tersebut diantaranya kita harus mengenakan sepatu, apabila membawa sendal sebaiknya nyeker saja.

Sedangkan bagi kaum perempuan wajib mengenakan rok atau kain selendang / jarit yang menutupi tubuh bagian bawah. Karena pada dasarnya wanita memang lebih sopannya memakai rok atau pun kain yang melilit tubuh. Makna daripada peringatan ini yakni bahwa kita harus meng- unggah-ungguhkan diri sendiri sebetulnya, agar orang lain itu bisa menerima dan bersikap sopan pula terhadap kita.

Jamuan Malam Asean Blogger di Loji Gandrung

Perjalanan tepatnya selama 12 jam dari Ciamis menuju Solo rupanya membawa berkah tersendiri bagi saya pribadi. Selama diperjalanan disuguhi berbagai pemandangan menarik baik itu pepohonan maupun aktivitas manusia yang begitu padatnya.

Berangkat tepat jam 06.40 wib dari rumah menuju terminal terdekat yakni Sidareja hingga menuju Purwokerto, saya tak melewatkan setiap moment yang ada dengan jepret di berbagai lokasi guna mendapatkan bahan tulisan atau sekedar kenangan.

Bus yang melaju dengan perlahan sekitar 50km/jam dari arah Sidareja menuju Purwokerto tersebut, sampailah di terminal Purwokerto pas

Thursday, May 16, 2013

Sekedar Curhat Saat Galau Menunggu Motor diservice

Jumat pagi di hari yang ke tujuh belas di bulan mei, merupakan pertengahan menuju suatu perubahan bangsa ini. Apa hubungannya coba dengan perubahan bangsa, toh ini hanya sekedar coretan tangan saya yang mencoba melawan kebuntuan pemikiran saat sedang berinteraksi dengan dunia maya.

Ini postingan saya buat saat berada di bengkel Ujang di Kampung Sindangasih RT 20 RW 04 Sidaharja Kecamatan Lakbok Kota Banjar Jawa Barat 46385. Sengaja datang ke bengkel ini lantaran beberapa permasalahan terjadi kepada motor tua saya. Biar tua tapi sudah pernah berkeliling kota mulai dari Bandung hingga Klaten Jawa Tengah. Kalau urusan muter-muter di Jogja sih sudah sering banget pas jadi relawan gempa.

Boleh cerita sedikit sih kali ini sepeda motor saya kerusakan terjadi pada klep kayaknya yang merupakan pembatas antara bagian luar motor guna mencegah oli keluar. Selanjutnya terdapat pula masalah pada mesin eh karburator tepatnya karena pada saat akan digas justru sepeda motor malahan mati.

Ini sudah terjadi beberapa hari saat saya sedang berada di Asean Blogger di Solo minggu kemarin. Tentu saja saya kaget lantaran sepeda motor tersebut merupakan motor yang biasa dipakai guna keperluan sehari-hari tapi tak ada yang merawat. Ya sudah saya bawa saja ke bengkel, dan mungkin usai ini saya akan langsung ke sawah guna prepare musim tanam bibit padi.

So buat kamu semua yang pengen ikutan nyemplung ke sawah, datang aja ke tempatku nanti ku ajak dan kuceburkan ke sawah. Bukan sadis sih hanya berbagi kesenangan saat menikmati sejuknya udara sepoi-sepoi di gubuk sawah usai tandur (menanam bibit padi di sawah). Ya sudah cuma segitu aja sih curhatan kali ini, toh ini juga sebuah keisengan guna mengobati kegalauan saat menunggu motornya diservice

Sampai jumpa lagi di postingan saya berikutnya. Pastikan hari ini anda semua bisa melakukan aktivitas sunah seperti motong kuku dan potong rambut. Sunahnya potong kuku dan rambut itu di hari Jumat lho, banyak berkahnya. Aamiin.

Wednesday, May 15, 2013

Pentingnya Menulis Saat Fikiran Jernih

Ngeblognya ditemani Nasi Goreng


Terbangun saat jam tiga pagi nampaknya bukan perkara mudah, pasalnya kita harus melawan rasa kantuk yang teramat sangat. Sehingga walaupun kita sudah terbangun masih saja ada kegundahan yang harus dirasakan, gundah karena raga dan jiwa tak menyatu akibat kantuk tersebut.

Tahukah kamu bahwa saat jam tiga pagi ini, begitu banyak berkah mengalir lantaran hampir kebanyakan manusia masih terlena di atas ranjang. Sementara kita yang terbiasa bangun di waktu tersebut harus berjuang menjemput rejeki plus melaksanakan tahajud bagi yang melaksanakan.

Menulis dalam waktu ini merupakan masa yang tepat menurut saya, kenapa? Karena suasana hening terkadang bisa membantu kinerja otak kiri dengan penuh kejernihan mengalirkan segala isi dan unek-unek ke dalam sebuah media blog.

Para blogger yang terbangun di masa ini harus merasa bahagia, karena secepat kilat jari jemari ini akan menari dengan indahnya sembari mengukir huruf demi huruf menjadi rangkaian susunan paragraf yang harmonis. Semoga apa yang saya haturkan bisa kawan praktekkan karena ini sangat bermanfaat bagi saya sendiri khususnya dan kawan-kawan pada umumnya.

Hangatnya Sambutan Blogger Cilacap di Kost at Papringan Jalan Solo

 
 
Rencana terkadang tak sesuai dengan keadaan karena faktor yang begitu banyak dan mempengaruhi segala aktivitas kita. Hal ini berlaku pula bagi saya yang seakan harus menerima kenyataan bahwa minggu sore pasca Kopdar #ABFI di Solo ini harus bermalam di Jogja dengan keadaan letih. Padahal sebelumnya saya ingin meluncur langsung ke PMI Solo guna melakukan donor darah, namun faktor kelelahan saya sadari akan membuat tekanan darah tinggi saya naik.

Malam senin menuju tanggal 13 Mei 2013 akhirnya saya memutuskan untuk menginap di kost teman bernama Khotibul Umam tersebut. Selama semalam penuh tepatnya sampai dengan jam 1 dini hari, kami bertiga melepaskan penat di malam hari dengan posting sesuai gaya menulis masing-masing. Tentunya sembari ngopi dengan ditemani cemilan yang membuat suasana perut semakin terisi.

Rupanya cemilan pun tak cukup untuk mengobati rasa lapar dalam tubuh ini dan terpaksa harus keluar mencari warung yang masih buka. Tanpa berfikir panjang saya dan Rohman Alhayat memutuskan untuk membeli nasi goreng di warung nasi seberang kost-kostan. Dengan wajah lesu bak pendekar mabok lantaran ngantuk, kami ngobrol tentang kenangan tadi di acara Asean Blogger.



Selang beberapa menit nasi goreng pesanan kami pun sudah siap dihidangkan, dengan diawali doa Bismillah nasi goreng tersebut langsung saya santap dengan lahapnya. Anehnya ketika hidung ini mencium aroma nasi goreng tersebut, mata saya langsung terbelalak lantaran menahan lapar tiada terkira. Padahal nggak lapar amat sih cuma pengen berbagi rejeki aja dengan pemilik warungnya.

Seperti kebiasaan saya sebelumnya bahwa setiap moment harus difoto (bukan kewajiban sih sebenarnya), saya bernarsis ria di depan nasi goreng yang masih panas itu. Sendok demi sendok nasi goreng itu pun habis, dengan gaya sempoyongan saya langsung bayar ke pedagangnya dengan tunai (tanpa hutang). Kembali meluncur ke arah kost-kostan dan langsung deh buka netbook lagi dan kawan-kawan keheranan karena saya sudah ngantuk tapi begitu pegang netbook langsung terjaga.

Rupanya hal ini tak bertahan lama hingga mata benar-benar ngantuk dan tertidur dengan pulasnya. Berbenah terlebih dahulu deh netbooknya agar tak terinjak kaki atau badan saya yang berbobot 65kg ini. Masih berpakaian kaos dari #ABFI berkerah tersebut, saya mencoba memejamkan mata hingga benar-benar lelap dengan posisi miring ke kanan (sesuai anjuran Rasulullah SAW). ZZZzzzzzzzz.....

Silaturahmi Bareng Blogger Cilacap dan Balikpapan Usai Asean Blogger

 Saat mas Imam dan mas Bambang di Tirtonadi => Fotographer (Bangmisno)

Bertempat di daerah Kesugihan tepatnya Desa Kalisabuk Kabupaten Cilacap, saya yang datang seorang diri dari Ciamis berkunjung ke rumah ketua komunitas blogger cilacap alias KBC. Kunjungan ini merupakan suatu kebetulan yang bukan kebenaran hanya pas momentnya saja yang tepat lantaran saya bersama komunitas blogger cilacap tersebut usai menghadiri acara Asean Blogger Festival Indonesia 2013 di Solo dengan hastag resminya #ABFI #ABFI2013.

Meluncur dari arah Solo pada hari minggu jam 16.30 sore, saya bersama mas Imam Hojali dan mas Bambang yang datang dari Balikpapan meluncur ke arah Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya terminal Giwangan. Bermodalkan tarif Rp 10.000 dari Tirtonadi ke Giwangan kami bersama-sama naik bus jenis ekonomi yang tentu saja berdesak-desakan dengan penumpang lain.

Padahal tarif resmi sekelas bus AC tarif dari Solo - Jogja hanya Rp 7.000,- dan tentu saja bisa duduk dengan tenang. Kebetulan saja kami masih bisa mendapatkan tempat duduk dan lebih memilih di posisi paling belakang. Bus itu pun segera melaju setelah mendapatkan jam pemberangkatan, dan berhenti ataupun berkoar-koar sudah menjadi ciri khas bus yang menaikturunkan penumpang.

Akhirnya sampailah kami di daerah Janti dan mas Imam Ghozali turun di daerah angkasa dekat perempatan samping SMK Penerbangan Angkasa. Sementara saya dan mas Bambang tetap berada di dalam bus hingga terminal Giwangan. Bus akhirnya sampai juga di terminal Giwangan dan saya sempatkan berfoto dengan background Selamat Datang di Yogyakarta atau apa gitu kalimatnya saya lupa lagi.

 Rohman Alhayat dan Khotibul Umam saat di kostnya

Sementara itu saya yang hendak menuju ke PMI Bantul sempat berfikir ulang untuk menginap dimana, akhirnya kuputuskan sms kawan dari KBC yakni Khotibul Umam di daerah kostnya Papringan samping jalan Solo. Selang beberapa menit Umam datang juga di Giwangan dan mas Bambang sudah pergi menuju Sewon dijemput saudaranya.

Sembari memasangkan helm guna keselamatan saya pun langsung duduk di atas jok motor, dan motor langsung dipacu dengan kecepatan 40 km/jam menuju kostnya. Dalam perjalanan sepeda motor ini mengalami mogok lantaran kehabisan bensin dan balik kanan menuju Pom Bensin.

Perlahan tapi pasti kami sampai juga di kostan dan segera saja saya nyalakan netbook berwarna putih yang saya taruh dalam tas hitam tanpa merk. Seperti biasa apa yang saya cari saat komputer terhubung dengan internet adalah total pengunjung karena ingin sekali melihat seberapa banyak perkembangan blog saya. Sampai di sini dulu ya cerita tentang silaturahmi ini dan bakal dilanjutkan nanti setelah saya sampai di rumah. #eh

Tuesday, May 14, 2013

Pahamkah Pengurus PMI Tentang Tujuh Prinsip?

Relawan yang bergaya di atas kereta api uap
 
Pertanyaan ini muncul dalam benak saya ketika banyaknya konflik sosial antara pengurus PMI dengan relawannya di berbagai daerah. Konflik yang terjadi adalah dari segi kebijakan yang menurut relawan tak sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan. Sehingga apa yang mereka putuskan menjadi bahan perbincangan bagi kalangan relawan.

Saya pun tak akan mempertegas mengenai konflik yang terjadi, karena kita faham betul kesenjangan akibat kebijakan pengurus di masing-masing daerah. Melihat hal itu semua yakni memandang kebijakan dari segi kepalangmerahan, pertanyaan yang muncul adalah "Pahamkah Pengurus PMI Akan Tujuh Prinsip Palang Merah?".
Entah itu saya pun tidak begitu tahu, tapi yang jelas ini memang ada benarnya dan saya juga terkadang berfikiran semacam itu. Tapi daripada kita bingung apa itu 7 Prinsip Palang Merah, saya akan menjabarkan mengenai ke tujuh prinsip tersebut. Ketujuh prinsip tersebut antara lain kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, dan kesemestaan. Selengkapnya

Konfirmasi Pemenang Lomba Blog TokoOn "Harmoni Indonesiaku"

Format Email Konfirmasi Pemenang Lomba Blog TokoOn
 
TMII bersama dengan TokoOn yang didukung juga oleh pihak IM2 sebagai penyedia jasa jaringan wifi, menggelar sebuah acara bertajuk tema "Harmoni Indonesiaku". Acara yang juga digelar dalam rangka ulang tahun TMII yang ke 38.


Dalam event sehari tersebut pihak TMII yang juga bekerjasama dengan TokoOn sebagai media jasa toko online baru di Indonesia, turut serta memasarkan berbagai produk UKM dalam negeri dengan melibatkan berbagai stakeholder yang ada.


TMII- TokoOn - IM2 dan Blogger Reporter selaku komunitas sitizen journalist mengenalkan berbagai kebudayaan yang ada di TMII yakni dengan mengunjungi beberapa anjungan seperti Jateng, Jatim dan DIY. Acara ini diawali dengan sosialisasi mengenai TokoOn dan dilanjutkan dengan kunjungan ke tiga anjungan tersebut di atas.

Para peserta dibebaskan untuk memilih mana anjungan yang akan dikunjungi, karena memang letak dari masing-masing anjungan sangat berdekatan. Usai kunjungan tersebut para blogger yang sedang duduk bersantai dalam perbincangannya memaparkan bahwa banyak begitu rahasia yang tersembunyi di TMII ini. 

Panitia dari pihak TokoOn juga mengadakan lomba blog on the spot dan live twit dengan hadiah yang bervariasi dan tentunya sangat menarik untuk dibawa pulang. Sedangkan bagi para blogger yang ingin mengikuti lomba blog di luar acara "Harmoni Indonesiaku" diberikan hadiah uang tunai bagi peserta 1-3 mulai dari 500 ribu hingga 1,5 juta rupiah.

Kontes ini sudah berakhir semenjak tanggal 28 April 2013 silam, dan berikut adalah daftar pemenangnya:
1. Muhammad Rizal Fuady mendapatkan Rp 1.500.000
2. Wisnu Siswantara           mendapatkan Rp 1.000.000
3. Fira Aditya Sari              mendapatkan Rp 500.000

Sedangkan untuk lima belas peserta lainnya mendapatkan hadiah hiburan (detail hadiahnya saya belum tahu).
1. Eurika Padnya
2. Bang Misno
3. Syaifuddin Sayuti
4. Asaque Publisher
5. Yulia Rahmawati
6. Singgih Tri Pambudi
7. Al-A'la Dzulfikar
8. Nelsi Islamiyati
9. Amet Afri
10. Dedi Kurnia Syah
11. Francisca Asri Budi Purnomo
12. Ilma Akrimatunnisa
13. Michael Kristiawan
14. Ananda Putra Imawan
15. Fadlun Arifin
16. "Ndue" Rini Astuti Handayani
17. Sri Sugiarti
18. Angga Dwi Prasetyo

Segera konfirmasikan data diri anda sebagai pemenang antara tanggal 13-15 Mei 2013 ke alamat email e-care@tokoon.com dengan subject Pemenang blog competition "Harmoni Indonesiaku". Isian email meliputi Nama, Alamat, Nomor HP dan Foto KTP atau scan KTP sebagai lampiran file seperti gambar di atas.




Monday, May 13, 2013

Saat Kereta Uap di Car Free Day

Peserta Car Free Day di Sela-sela kereta api uap

Laju perjalanan  kereta pun terus bergerak dengan kecepatan 20km/jam,, melaju lambat lantaran berjalan di area perkotaan yang sedang padatnya. Saat melintas sepanjang jalan Slamet Riyadi ternyata begitu banyak warga Solo maupun luar Solo yang sudah berjubel memadati area tersebut.




Indahnya Kenangan di Kereta Uap

Pradinasweet dan peserta car free day berfose depan kereta api uap


Terbangun pagi jam setengah enam nampaknya suatu berkah tersendiri bagi saya dan beberapa kawan blogger lain di acara Asean Blogger Festival Indonesia. Pasalnya dengan terbangun pagi walau sudah agak siang karena setengah enam, saya bisa dapatkan informasi naik kereta uap bersama beberapa kawan blogger yang tentunya jarang sekali didapatkan walau sering ke Solo.

Saya memang termasuk orang yang hobi jalan-jalan dengan modal nekat alias sangu pas-pasan, yang penting bisa sampai di lokasi tujuan. Mengenai berkunjung ke Kota Solo saya merasa tidak begitu asing akan daerah ini, karena dahulu pernah tinggal sebentar selama sembilan bulan di Jogjakarta tepatnya di Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul.

Saat itu saya bertugas dalam misi kemanusiaan yang dikoordinir oleh IFRC dan PMI, guna menjalankan program pembangunan hunian sementara di daerah pilot project Dlingo dan Gantiwarno Klaten. Ya selama kurun waktu tersebut saya terbiasa mondar-mandir ke sana kemari untuk menjalankan berbagai program tersebut termasuk jalan-jalan ke Solo.
Itu kenangan selama masa di Jogja merupakan suatu kenangan yang tak terlupakan karena merasa dekat banget dengan warga Jogja khususnya yang berada di daerah program tempat saya laksanakan hunian sementara tersebut. Begitu dekatnya dengan masyarakat setempat menjadikan saya ingin kembali tinggal di Jogja.

Ini sejarah saya dengan Niar Ningrum dalam kereta uap
 
Bila saya ceritakan secara menyeluruh mungkin postingan ini tak cukup untuk meluapkan semua kenangan saya. Namun saya akan menulis sebuah intisari saja akan peristiwa lampau untuk alasan mengapa saya mencintai Jogja. Walau saya bukan lahir di jogja tetapi masih orang jawa, dan sesuai amanat Sultan bahwa beliau tidak menghendaki seseorang menjadi orang jogja, tetapi jadilah orang jawa yang baik, orang Ambon yang baik, orang Madura yang baik dan lain sebagainya.
Nampaknya terlalu berpanjang lebar ya saya bercerita ini, eh langsung saja deh ke topik utama mengenai indahnya menikmati udara ups kereta uap kemarin di Solo maksudnya. Pukul 06.40 kami bergegas naik bus menuju ke Stasiun Purwosari untuk menaiki kereta api uap. Sebelumnya saya sudah khawatir tak kebagian naik kereta ini lantaran sedang sarapan waktu itu.

Alhamdulillah saya dan kang Syaifudin dari Jakarta belum ketinggalan bus yang menuju stasiun kereta, dan akhirnya bisa naik kereta api bersama para blogger lainnya. Sudah menjadi kebiasaan kami para blogger langsung bernarsis ria dalam kereta dengan berbagai gaya bak foto model tentunya. Sembari menunggu bara api dinyalakan, saya turun sejenak untuk melihat proses pembakaran kayu maupun batu bara di mesin pembakaran kereta uap tersebut.

Tuuuttt...tuuutttt....tuuuutttt terdengar bunyi klakson dari sebuah kereta dalam radius 3 km dari stasiun. Saya bertanya dalam hati sejenak dan ternyata alarm di stasiun kereta berbunyi yang menandakan akan ada kereta datang. Selang beberapa detik petugas pengatur perjalanan kereta memberikan informasi bahwa ada kereta pasundan yang datang dari arah Bandung menuju Surabaya. Ini merupakan kereta api yang saya naiki 5 Juni  2010 silam saat akan mengikuti kopdar SOLO (Sharing Online Lan Offline) bareng kawan blogger Bengawan.
Sabar menanti akhirnya lewat juga itu kereta pasundan dan langsung meluncur ke arah timur hingga Surabaya. Selang beberapa menit kemudian terdengarlah suara alunan klakson dari kereta api uap ini, dan para blogger yang sedang sibuk ria berfoto di luar kereta bergegas naik ke dalam gerbong. Tuutt..tuttt...tutt suara peluit kereta yang berbunyi sepanjang perjalanan menuju ke Stasiun Solo Kota.

Bangmisno saat berkunjung ke stasiun Solo Kota

Pengalaman pertama naik kereta ini membuat para blogger merasa sangat senang dan tentunya tak melewatkan moment sepanjang kereta melaju. Laksana artis yang sedang berkeliling kota, kami para blogger melambaikan tangan kepada warga setempat yang bermukim di sisi rel kereta api. Wah senangnya dapat sambutan meriah dari para warga, dan mereka bingung juga karena kami berseragam bak tentara yang akan berperang. Readmore.....

Baca juga ya