-

Cahaya Baru Petani Langensari

Dunia pertanian sepertinya hal yang paling dibenci oleh anak-anak jaman sekarang, karena erat kaitannya dengan lumpur dan kekotoran hingga mereka merasa malu dan minder. Namun dibalik rasa malu itu, dunia pertanian memberikan kontribusi terhadap kebutuhan pangan kita sehari-hari, entah itu masyarakat desa atau pun masyarakat kota pada umumnya. Lantas apa yang membuat dunia pertanian itu menjadi momok yang menakutkan bagi anak-anak remaja? Apakah itu kotor karena harus bergumul dengan lumpur, penghasilan yang kurang memadai dari bertani, atau karena ingin bekerja kantoran dan pabrikan yang notabene nya lebih bersih? Yang pasti dari semua alasan itu, bertani memberikan kontribusi yang sangat besar. Sungguh pun sering kita dengar keluhan masyarakat tentang rendahnya harga jual petani sehingga menyebabkan kerugian berjuta-juta, toh itu tetap mereka lakukan karena memang itulah keahlian mereka yakni hanya bisa bertani. Dewasa ini banyak sekali sarjana yang menganggur karena kurang tersedianya lapangan kerja, sementara mereka tidak pandai memanfaatkan keahliannya untuk berwirausaha atau mengikuti program Sarjana Membangun Desa.

Seperti terkena durian runtuh, pertanian di Indonesia khususnya di wilayah Langen Banjar Jawa Barat, saat ini telah tumbuh subur budidaya pertanian jenis Pepaya California. Makanan sebagai pencuci mulut ini yang dahulunya memiliki harga sangat rendah bahkan tidak berarti sama sekali, kini bisa diexpor ke negara tetangga paling tidak memenuhi kebutuhan pangan buah dalam negeri disamping sebagai bahan sabun kecantikan lainnya yang bisa diserap industri. Bantaran sungai yang dulunya hanya ditumbuhi rumput, kini sudah beralih menjadi bentangan pohon pepaya yang cukup luas. Awal mulanya ada beberapa petani yang mencoba menanam kates dari luar negeri ini di lahan mereka atas usulan dari Penyuluh Pertanian. Berkat keteladanan mereka kini sudah ada sekitar dua puluh petani yang menanam pepaya jenis California ini. Keuntungannya pun cukup menggiurkan karena dalam waktu 6 bulan sejak masa tanam, mereka sudah dapat melakukan panen pertama.

Lalu mengapa terkadang masih saja ada keluhan mengenai harga petani yang rendah dan gagal panen yang bertubi-tubi? Sejenak kita berfikir, oh sepertinya kita harus membuka diri untuk menerima informasi dari luar dengan sangat cepat di mana pertumbuhan dan percepatan informasi saat ini dapat dengan mudah kita akses melalui media internet kapan pun dan di mana pun. Lalu bagaimana kaitan antara bercocok tanam pepaya California dengan berkebun di halaman rumah? Seperti keinginan saudara saya Neng Yuni yang ingin menanam tanaman buah Klengkeng serta anggur di halaman rumahnya, dengan memanfaatkan lahan yang tak begitu luas namun bisa menghasilkan paling tidak sedikit menghemat anggaran karena ada space penghasil buah segar yang bisa dipetik kapan pun. Jadi tidak ada alasan lagi untuk malu bertani atau malas karena kotor serta penghasilan yang tak menentu, asalkan kita bisa membuka fikiran dan mencari informasi tentang kebutuhan pangan dominan selain kebutuhan pokok berupa beras dan jagung. Sekian dari saya salam blogger. Salam untuk Kang Didno, Neng Yuni, Luvie, dll.
Previous
Next Post »

Silahkan berkomentar tetapi dengan santun. Show Konversi KodeHide Konversi Kode Show EmoticonHide Emoticon

Thanks for your comment