Wednesday, November 30, 2011

Hujan Mereda, Petani Resah

Musim hujan yang diperkirakan akan turun dengan deras pada desember kali ini, ternyata hanya berlangsung sesaat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kabut tebal ketika pagi menjelang. Sebagian petani yang lahannya sudah tergenang air pun ada yang mengalami penyurutan hingga menyebabkan lahan menjadi kering kembali. Kekhawatiran lain pun terjadi lantaran mereka yang sudah ditraktor sawahnya, harus bersiap persemaian padinya menjadi tak bisa dimanfaatkan. Memang menurut beberapa orang tua bahwasanya hujan deras secara kontinyu akan terjadi pada bulan januari 2012.

Sementara para petani yang saat ini sedang memanen padi pun masih enggan untuk mengolah kembali lahan pertanian mereka. Pasalnya debit air sungai menuju sawah mereka masih terhambat terkait jarak yang jauh dari aliran sungai. Namun bagi mereka yang memiliki sawah dipinggiran sungai sudah ada yang tanam padi. Musim tanam yang tidak merata ini pun dikhawatirkan akan berdampak pada stok beras nasional. Untuk menjaga harga beras nasional agar stabil, pemerintah sudah melakukan upaya pencegahan dengan mengimpor beras Thailand.

Sunday, November 27, 2011

MENUJU ASEAN BLOGGER CONFERENCE (Sesi2)

Alhamdulillah cerita ini bisa dilanjutkan. Setelah kami naik pesawat dan lepas landas, terbanglah burung baja ini ke angkasa dan kami pun menikmati pemandangan luar biasa indahnya. Di atas awan kita bisa melihat tebalnya gumpalan awan pekat dan birunya langit langsung di atas langit. Beberapa kawan blogger seperti mang jazi, didno76 dan lainnya nampak asyik melihat pemandangan ini, dan tak lupa mengabadikan moment ini dengan kamera handphone milik masing-masing. Berfose terus-menerus membuat perut ini lapar, dan alhamdulillahnya jatah snack dari pramugari datang sudah, tanpa diperintah kami pun langsung mencoba menu hidangan ala pesawat. Perjalanan yang kami tempuh selama 1,5 jam ini pun membuat kami sedikit kelelahan, namun merasakan nikmat yang luar biasa dengan pemandangan indah dari atas awan. Tibalah kami di Bandara Ngurah Rai Bali sekitar jam 18.00 wita dan langsung dijemput sama mba indahjuli dan mas bahtiar. Yang namanya blogger pasti gak bakalan jauh dari kamera, sebelum berangkat menuju hotel pun kami sempatkan dulu berfoto dengan fose masing-masing, bahkan ada yang menggunakan pesawat sebagai backgroundnya.

Tak beberapa lama kemudian meluncurlah kami ke hotel popharis di daerah Kuta. Merupakan sebuah hotel kelas menengah karena didalamnya tidak ada fasilitas dispanser walau televisi dan wireless telah tersedia. Selama perjalanan dari Bandara keberangkatan hingga Denpasar membuat kami semua kelelahan dan berkeringat. Setelah mendapatkan kunci kamar masing-masing, kami pun langsung berebut ranjang untuk istirahat sejenak sementara sebagian ada yang langsung mandi. Usai itu langsung turun menuju lobi untuk diberangkatkan bersama seluruh blogger se-Asean menuju acara ulangtahun Blogger Bali. Berbagai aksi dan atraksi pun digelar, diantaranya perkenalan dari perwakilan blogger yang hadir serta acara musical termasuk acara wajib yakni makan-makan. Acara yang berlangsung sekitar 2 jam ini pun membuat kami merasa ngantuk karena memang belum beristirahat semenjak perjalanan dari tempat asal. Meluncurlah kami ke hotel dan langsung beristirahat namun sebagian ada yang posting ataupun duduk di lobi sembari memanfaatkan fasilitas internet hotel.

Monday, November 21, 2011

MENUJU ASEAN BLOGGER CONFERENCE

Ini adalah kisahku selama mengikuti perjalanan blogger asean di Bali 16-17 November 2011. Sebuah agenda yang tidak dihadiri seluruh blogger nasional karena memang hanya para undangan saja yang berhak mengikuti acara tersebut. Tujuan diadakannya AseanBlogger tersebut adalah Deklarasi Pembentukan Komunitas Blogger ASEAN. Peristiwa yang #sesuatubanged mengingat acara tersebut dihadiri perwakilan komunitas baik lokal maupun negara-negara anggota ASEAN.

Sekitar tanggal 28 oktober ketika berbincang via twitter, saya terkejut karena ada informasi bahwa mendapat undangan untuk mengikuti acara AseanBlogger di Bali. Sepertinya memang lama saya tidak membuka email karena lebih banyak langsung masuk ke menu blogspot ketimbang buka yahoo.com. Cerita singkat mengenai perjalanan ke AseanBlogger dimulai ketika aku ditelpon oleh Bu @indahjuli untuk reservasi tiket pesawat, karena lokasi saya di jawa barat ujung timur yang berbatasan langsung dengan jawa tengah yakni kabupaten cilacap, maka saya dapat opsi apakah lewat Bandara Husein Sastra Negara atau Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Dengan pertimbangan bahwa ini adalah pengalaman pertama memasuki bandara, maka saya memutuskan untuk melewati Bandara Soetta bersama sekitar 30 blogger dari berbagai kota di Jabar-Banten-DKI.

Seperti kebiasaan sebelumnya bahwa setiap pagi sebelum ke ladang atau ke tempat yang lainnya, saya berjualan sayur matang dengan berbagai menu seperti tempe goreng, oseng belut, oseng daun singkong, kulub daun singkong, dsb. Alhamdulillah pagi itu semua sayuran dan gorengan habis terjual dan aku pun langsung cabut pulang ke rumah untuk ke warnet cek email yang nyatanya belum ada informasi mengenai e-tiket. Dengan berfikir positif bahwa sepertinya belum dikirim kemudian saya pun beralih ke facebook, twitter dan ngeblog sebentar sembari komentar di blog kang didno. Berjalan-jalan di blog membuatku tak terasa sudah terlalu lama di depan layar komputer hingga akhirnya sekitar 3 jam saya berada di warnet. Mata pun lelah hingga sesekali berkedip, hemm tarik nafas sejenak dan aku pun langsung “let’s go” (ala Pak RT dalam AWAS ADA SULE).

Malam senin menjelang hari pemberangkatan saya menyibukkan diri dengan membaca beberapa agenda di Bali yang sepertinya sangat menarik sekali untuk disimak. Menelpon atau pun smsan dengan beberapa kawan blogger yang kenal semasa amprokan kemarin terus berlanjut. Saling bertukar informasi mengenai jadwal pesawat hingga jenis armada yang dipakai. Kang Didno yang merupakan salah satu blogger terkenal asal indramayu kecamatan gabuswetan pun menjadi salah satu sumber referensi saya selain Bu @Indahjuli. Esok hari ketika masih pagi saya membuat rencana untuk membuat KTP di Kantor Kecamatan. Namun rencana tersebut pun gagal karena harus masak legen untuk dijadikan gula merah. Sembari menunggu api dalam tungku, iseng saya buka facebook dan menemukan ada salah satu anggota rengrengan panitia yang akan check in di Bandara Soetta. Seperti apa informasi yang saya dapatkan? Menunjukkan KTP pada saat penukaran e-tiket.

Jam di dinding pun terus berdetak seiring detak jantungku ini, dan nampaknya sudah menunjukkan waktu pukul 16.00 WIB hingga aku langsung meluncur menuju ke warnet. Tanpa ada instruksi atau pun bertanya terhadap penjaga warnet, mataku langsung melirik ke sana kemari untuk mencari tempat yang kosong. Akhirnya kudapatkan dan email pun kubuka beberapa saat. Membuka yahoo dan email kubuka hingga kudapati surat elektronik datang dari mas Bahtiar dan Bu Indahjuli. Beberapa informasi dari mas bahtiar adalah :

Dear Misno,

Selamat yaa, e-tiket Jakarta - Bali PP telah sampai ditangan :)

Sebagai ketua panitia acara ini, kami ingin mengingatkan kembali dan

menambahkan beberapa pesan pada tiap-tiap perwakilan komunitas, agar

keseluruhan acara menjadi lebih bermakna dan berkesan sebagai

oleh-oleh untuk dibawa pulang pada komunitas masing-masing.


Pertama, jangan lupa e-tiketnya dijaga, bila perlu di-print untuk

ditunjukkan saat check in berangkat dan pulang di Bandara.


Kedua, jangan lupa bawa pakaian / baju batik, bawahan / celana non

jeans, dan sepatu. Untuk mengikuti acara Gala Dinner yang

diselenggarakan formal Kementrian Luar Negeri.


Ketiga, print name tag yang kami sertakan dalam email ini, untuk

ditunjukkan setiba di bandara


Keempat, tidak ada salahnya membawa makanan kering, cinderamata yang

mudah didapat dan murah khas dari komunitas / daerah masing-masing

peserta, untuk dihadiahkan pada peserta negara-negara Asean sebagai

media perkenalan dan kenang-kenangan.


Terakhir, print juga jadwal acara yang pernah dikirim Mbak Indah Juli,

agar tiap peserta dapat menyesuaikan dan mengikuti acara dengan tepat

dan efisien waktu.


Demikian info tambahan dari kami, semoga bermanfaat.


Sampai jumpa di BALI,

salam jabat erat,

@bahtiar

08132 8484 289


E-tiket sudah tercetak dan name tag ditangan, saya pamit menuju pulang ke rumah. Tanpa pikir panjang saya langsung mencari tas untuk menaruh pakaian dan peralatan lain untuk di bawa ke Bali. Disela kesibukan itu pun saya sempatkan sms mengenai souvenir yang akan dibawa sekaligus pakaiannya kepada kang didno. Jam 8 malam tepat saya menuju ke salah satu terminal pemberangkatan bus terdekat yakni di Banjarsari dan sampai di terminal kampung rambutan jam 3 selasa dini hari. Seolah masih bingung mau meluncur ke mana karena barang pertama di terminal ini, saya sibukkan untuk main sms dan facebookan terlebih dahulu sembari menyimak kendaraan yang lalu lalang. Sebuah angkot kijang berwarna merah muda dengan nomor trayek 09 tujuan depok menarik perhatian saya. Mau tahu apa yang saya pikirkan? Bahwasanya hendak ingin mampir ke tempat @sukanitha untuk tengok halaman rumahnya karena beberapa waktu silam pernah janji bawakan bibit pohon klengkeng jenis rasa durian sebagai ajakan cinta lingkungan. Berhubung informasi yang saya dapatkan mengenai tempat dia tinggal, saya pun urungkan niat tersebut dan lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Bandara. Ditengah suasana kebimbangan tujuan tersebut, saya memutuskan untuk mampir barang sejenak ke KebonNanas Cikokol Tangerang tempat kakek. Di tempat beliau saya langsung mandi dan sarapan pagi, baru setelah itu menuju tempat dia kerja yakni percetakan spanduk yang berukuran sekitar 4x6m. Alhamdulillah ada pelanggan yang pernah ke Bandara Soetta menggunakan mobil pribadi atau motor, hingga akhirnya saya pun mendapatkan informasi untuk menuju Bandara.

Detak jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10.00 wib dan langsung menuju Bandara dengan sebelumnya melewati beberapa rute dan angkot. Pertama saya di antar menuju ke Portal menggunakan sepeda motor, sesampainya di sana menaiki angkot jurusan cikokol-dadap dan turun di salah satu pertigaan menuju Bandara. Dari lokasi tersebut saya langsung menaiki kendaraan jenis daihatsu menuju terminal 1 Bandara Soetta. Alhamdulillah sesampainya di sana beberapa rekan yang ketemu di AmprokanBlogger menyambut dengan senyum renyah, mereka adalah Didno76, Mang Jazi, Rosidnet, Jay Boana. Didno76 berasal dari Indramayu sementara ketiga blogger yang lainnya berasal dari Tangerang.

Tanpa pikir panjang kami langsung bergegas untuk check-in setelah melalui pemeriksaan metal detektor. Sesampainya di dalam kami masih dikejutkan dengan angka “Patang Puluh Ewu”. Kenapa? Karena kami pikir tiket pesawat sudah termasuk biaya pelayanan atau boarding. Maaf kiranya ada pandangan yang masih keliru karena memang masih awam seputar kegiatan di Bandara, hehehe. Dengan nada bingung salah satu blogger akhirnya menelpon panitia dan menanyakan biaya Rp 40.000 apakah sudah termasuk reservasi etiket atau kagak. Namun masih ada yang bingung lagi yakni apakah biaya tersebut akan diganti atau tidak, akhirnya satu persatu blogger mengeluarkan kocek sebesar itu. Lanjut meluncur ke atas pintu gerbang 6 dan langsung lesehan di dekat pintu G-6 tersebut.

Bosan memang kalau blogger tidak membuka laptop untuk berposting ria ketika waktu luang. Asyiknya ngobrol mengenai berbagai hal khususnya tentang facebook yang banyak spam, blogger asal bekasi pun datang merapat @yulefdian. Sebuah acara tak lengkap rasanya tanpa souvenir atau kenangan, dan tanpa pikir panjang mas @yulefdian pun langsung membagikan stiker @aseanblogger #ABCBali. Eh eh eh,,,, lama-lama perut kita jadi laper nich, waduh ternyata ada makanan model baru nich yakni tike yang dibawa oleh Kangdidno. Selang beberapa lama pun datang seorang blogger dari Bogor bernama chandra dengan senyum ramahnya langsung menyalami kami. Berbekal informasi dari panitia bahwasanya peserta harus membawa souvenir dari daerah masing-masing, chandra pun mengeluarkan makanan pedas khas bogor yang bermerk Maicih. Baru beberapa kunyah saja makanan tersebut sudah membuat kami kepedasan, ini memang makanan baru bagi kami dan sangat bersyukur bisa mengenal makanan ringan tradisionil yang dikemas secara modern melalui para blogger. Hidup Blogger!!! Waktu terus berjalan dan akhirnya sekitar 30 blogger yang menggunakan armada sriwijaya air dengan jadual penerbangan 14.05 sudah hadir dan langsung meluncur naik pesawat ke Denpasar. Kisah ini pun akan berlanjut di Bandara Ngurah Rai Bali,,,, Bersambung.

Wednesday, November 16, 2011

Menuju Asean Blogger 2011

Seperti kita ketahui bahwasanya kebebasan berexpresi dan mengeluarkan pendapat adalah hak segenap bangsa Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu dan seringnya pejabat tinggi dalam hal ini DPR, mereka membentuk sebuah undang-undang yang dirasakan para blogger menghentikan kebebasan berexpresi. Pasal 27 ayat 3 Undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik menjadi tranding topik di kalangan blogger khususnya karena dirasa sangat memberatkan dalam kebebasan berfikir dan berexpresi. Seyogyanya diperlukan pertimbangan yang lebih matang agar pertumbuhan dan kemajuan ilmu pengetahuan generasi muda tidak terhambat.

Selanjutnya sebuah moment yang dirasakan sangat dahsyat kehadirannya yakni Konferensi Blogger Asean di mana dalam agenda utama adalah perumusan deklarasi Blogger Asean. Langkah ke depan pun direncanakan akan diadakan acara tahunan bergulir sehingga semua merasakan nuansa yang berbeda. Sedikit singkat cerita mengenai perjalanan panjang menuju acara istimewa ini di Bali, ada ulasan mengapa saya ikut hadir juga. Sepucuk surat elektronik dari Bu IndahJuli terkait AseanBlogger, saya memutuskan untuk mengikuti acara tersebut dan melakukan berbagai persiapan. Hari senin sore sebelum berangkat saya cek email di warnet guna mencari informasi terkait e-tiket perjalanan ke Bali. Alhamdulillah yang saya maksud pun ketemu. Setelah di printout kemudian bergegas pulang dan packing pakaian hingga menuju terminal Banjarsari menuju Jakarta. Keesokan harinya sebelum ke Bandara, saya beranjak ke tempat saudara di Kebon Nanas Cikokol Tangerang. Sekitar selasa siang jam 10.00 wib saya lantas melanjutkan perjalanan ke Bandara untuk bertemu dengan rekan-rekan blogger yang lain, waktu itu ada didno76, A jazi, jay dan rosid.

Monday, November 14, 2011

Yuk Demam Kontes SEMI SEO

Saudara-saudaraku yang rajin bikin artikel, kini saatnya uji kembali kualitas tulisan sobat. Soalnya Kartunet.com ngadain lagi tuch Kontes SEMI SEO. Untuk lebih detailnya klik aja di sini.

Wednesday, November 9, 2011

Cahaya Baru Petani Langensari

Dunia pertanian sepertinya hal yang paling dibenci oleh anak-anak jaman sekarang, karena erat kaitannya dengan lumpur dan kekotoran hingga mereka merasa malu dan minder. Namun dibalik rasa malu itu, dunia pertanian memberikan kontribusi terhadap kebutuhan pangan kita sehari-hari, entah itu masyarakat desa atau pun masyarakat kota pada umumnya. Lantas apa yang membuat dunia pertanian itu menjadi momok yang menakutkan bagi anak-anak remaja? Apakah itu kotor karena harus bergumul dengan lumpur, penghasilan yang kurang memadai dari bertani, atau karena ingin bekerja kantoran dan pabrikan yang notabene nya lebih bersih? Yang pasti dari semua alasan itu, bertani memberikan kontribusi yang sangat besar. Sungguh pun sering kita dengar keluhan masyarakat tentang rendahnya harga jual petani sehingga menyebabkan kerugian berjuta-juta, toh itu tetap mereka lakukan karena memang itulah keahlian mereka yakni hanya bisa bertani. Dewasa ini banyak sekali sarjana yang menganggur karena kurang tersedianya lapangan kerja, sementara mereka tidak pandai memanfaatkan keahliannya untuk berwirausaha atau mengikuti program Sarjana Membangun Desa.

Seperti terkena durian runtuh, pertanian di Indonesia khususnya di wilayah Langen Banjar Jawa Barat, saat ini telah tumbuh subur budidaya pertanian jenis Pepaya California. Makanan sebagai pencuci mulut ini yang dahulunya memiliki harga sangat rendah bahkan tidak berarti sama sekali, kini bisa diexpor ke negara tetangga paling tidak memenuhi kebutuhan pangan buah dalam negeri disamping sebagai bahan sabun kecantikan lainnya yang bisa diserap industri. Bantaran sungai yang dulunya hanya ditumbuhi rumput, kini sudah beralih menjadi bentangan pohon pepaya yang cukup luas. Awal mulanya ada beberapa petani yang mencoba menanam kates dari luar negeri ini di lahan mereka atas usulan dari Penyuluh Pertanian. Berkat keteladanan mereka kini sudah ada sekitar dua puluh petani yang menanam pepaya jenis California ini. Keuntungannya pun cukup menggiurkan karena dalam waktu 6 bulan sejak masa tanam, mereka sudah dapat melakukan panen pertama.

Lalu mengapa terkadang masih saja ada keluhan mengenai harga petani yang rendah dan gagal panen yang bertubi-tubi? Sejenak kita berfikir, oh sepertinya kita harus membuka diri untuk menerima informasi dari luar dengan sangat cepat di mana pertumbuhan dan percepatan informasi saat ini dapat dengan mudah kita akses melalui media internet kapan pun dan di mana pun. Lalu bagaimana kaitan antara bercocok tanam pepaya California dengan berkebun di halaman rumah? Seperti keinginan saudara saya Neng Yuni yang ingin menanam tanaman buah Klengkeng serta anggur di halaman rumahnya, dengan memanfaatkan lahan yang tak begitu luas namun bisa menghasilkan paling tidak sedikit menghemat anggaran karena ada space penghasil buah segar yang bisa dipetik kapan pun. Jadi tidak ada alasan lagi untuk malu bertani atau malas karena kotor serta penghasilan yang tak menentu, asalkan kita bisa membuka fikiran dan mencari informasi tentang kebutuhan pangan dominan selain kebutuhan pokok berupa beras dan jagung. Sekian dari saya salam blogger. Salam untuk Kang Didno, Neng Yuni, Luvie, dll.

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat

Setiap orang tua apapun kondisinya selalu mengharapkan bayi yang dilahirkannya kelak terlahir dengan sempurna tanpa mengalami kondisi disabilitas. Namun terkadang keinginan manusia dalam hal ini para orang tua berbeda dengan kehendak Sang Pencipta. Alhasil gelisah dan ketakutan karena khawatir anaknya akan dijauhi teman-teman serta lingkungan selalu menyelimuti. Dalam kondisi inilah kita harus mawas diri dan bersiap untuk tabah atas ujian yang mendera. Karena sudut pandang masyarakat terhadap orang lain yang kurang sempurna secara fisik, selalu berbeda hingga sinis atau benci.

Persoalan lain yang sering timbul datang dari pelaku disabilita itu sendiri karena ketidaksiapan mental serta didikan orang tua yang cenderung mengurung anaknya agar tidak bermain dan mengenal dunia luar. Sejatinya pengenalan lingkungan sejak dini dan belajar beradaptasi atas keadaan disabilitas menjadi sangat penting. Sebabnya kita perlu belajar seperti apa sich tindakan yang harus dilakukan ketika sang anak atau pun famili yang lain menderita hal ini? Langkah awal yang tepat adalah memberikan alat bantu bagi pelaku disabilitas dengan serta mengiringi dan memberikan rasa nyaman. Secara psikologis mereka sama dengan kita, yakni ingin mendapatkan hak hidup bermasyarakat dengan aman dan nyaman serta aktivitas sosial yang lain. Sesuai dengan tema "Disabilitas dan Pandangan Masyarakat" akan kita ulas beberapa pandangan salah yang justru menjadikan lemah mental para penyandang disabilitas ini.

Pemikiran sosial terhadap penyandang disabilitas ini sebetulnya lahir dari sesuatu yang berbeda dari kebanyakan kita. Menurut orang banyak seseorang yang lahir dengan jari-jari kurang dari sepuluh, telingan yang satunya tak memiliki daun, mata buta sebelah sejak lahir tak bisa melihat, dan lain sebagainya akan disebut disabilitas. Hal itu mereka ucapkan lantaran kehadiran sesuatu yang berbeda dari kebanyakan. Lantas apakah seorang petani dari kebanyakan memiliki mobil serta traktor bisa disebut penyandang disabilitas? Bisa saja itu terjadi kalau kita melihat makna disabilitas ini dari sudut pandang kebanyakan. Lalu apakah agar tidak disebut dengan disabilitas mereka (petani) tidak boleh memiliki mobil atau traktor? Mari kita bicara dari sudut pandang terbalik suatu permasalahan.

Orang kaya adalah miskin dan orang miskin adalah kaya. Nah pola pikir ini bisa kita terapkan terhadap disabilitas, di mana orang normal kebanyakan bisa disebut disabilitas di lingkungan yang mayoritas disebut disabilitas. Sedangkan orang yang disabilitas akan disebut disabilitas kalau mereka tinggal di lingkungan yang notabene disebut sebagai manusia sempurna. Apakah akan menjadi suatu permasalahan besar kalau disabilitas tinggal di sekitar kita, atau kah mereka beban untuk kita yang disebut kebanyakan sebagai normal? Contoh yang bisa kita saksikan di televisi, jejaring sosial atau pun lingkungan sekitar jika ada tentang orang yang disebut disabilitas mereka memiliki keahlian yang luar biasa. Sang pendakwah cilik di salah satu stasiun televisi entah siapa namanya saya lupa lagi, toh seorang gadis muda yang disabilitas karena tanpa keraguan mengobarkan semangat dakwah. Gusdur Almarhum seorang ulama yang berjalannya saja duduk di atas kursi roda serta tidak bisa melihat bisa menjadi seorang presiden, pemimpin dari kita bangsa indonesia.

Ada istilah yang saya buat "
The strength of the deficiency" yang bisa diartikan Kekuatan dari Kekurangan, itu tampak jelas kita lihat dari tulisan saya di paragraf atas. Banyak contoh lain yang bisa kita jadikan tolak ukur untuk menghentikan diskriminasi terhadap pelaku disabilitas ini. Merubah pola pikir adalah langkah awal sehingga tindakan kita akan lebih terarah karena memiliki pandangan yang positif terhadap disabilitas. Seperti apakah tindakannya??? Pertama kali tindakan yang dilakukan adalah pendekatan awal mengenai kebutuhan seseorang dengan disbilitas ini. Memberikan rasa nyaman serta komunikasi yang baik akan membuat mereka merasa selalu berada di sekitar manusia normal. Berikan mereka pendidikan sesuai dengan kondisi yang tidak umum, misal kata seseorang dengan buta penglihatan bisa kita bantu belajar membaca dengan huruf braille.

Mulai sekarang mari kita niatkan dalam hati untuk "Stop Diskriminasi Penyandang Disabilitas" dan rubah cara berfikir negatif terhadap mereka hingga menjadikan sesuatu yang dahsyat. Seorang KH Abdurahman Wahid yang tidak bisa melihat serta berjalan bisa menjadi presiden, mengapa mereka di sekitar kita yang buta mata, lengan tak lengkap, autis harus dijauhi? Dan yakinlah dengan ketelatenan dan ketekunan mereka bisa menjadi orang yang hebat dan bisa membanggakan. Merasakan dan memberikan peluang terhadap mereka yang berbeda secara fisik menjadi keharusan bagi kita semua untuk berbuat lebih.

Rasanya kita butuh nich suatu media yang bisa menjadikan mercusuar atau woro-woro untuk menyuarakan semangat anti diskriminasi terhadap pelaku disabilitas. Hemm rujukan yang bisa diambil sepertinya kartunet.com sebagai media yang akan menyebarkan semangat untuk menjadikan masyarakat inklusif. Waduh apa lagi nich yang dimaksud masyarakat inklusif? Sepertinya bagi sebagian orang kebanyakan masih asing terhadap istilah yang satu ini, kalau para insinyur atau pun intelek pasti sudah mengetahuinya. Istilah dasar inklusif yang berasal dari inklusifitas adalah sebuah bentuk pengakuan, penghargaan dan penghormatan atas perbedaan dan keberagaman. Sehingga masyarakat inklusif bisa diartikan sebagai suatu koloni atau komunitas masyarakat yang mengakui dan menerima serta menghargai adanya suatu keberagaman dan perbedaan di masyarakat berupa perbedaan suku, ras, komunitas hingga pelaku disabilitas itu sendiri. Dengan semakin meningkatnya media sosial dan wacana informasi diharapkan situs kartunet.com terus berupaya melakukan demonstrasi anti diskriminasi terhadap penyandang disabilitas.

Kiranya semua kembali kepada diri masing-masing, melakukan pemikiran terbalik dalam posisi bola berputar dengan sedikit kalimat andai-andai. Seandainya kita yang disabilitas akankah kita dijauhi? Seandainya kita yang buta akankah dunia ini hancur? Seandainya kita tidak memiliki daun telingan akan kah kita punya teman, adakah rela orang yang mau berteman dengan kita? Pemikiran semacam itulah yang terkadang harus tertanam rapi di dalam fikiran serta hati kita, agar lebih mawas diri dan tidak semena-mena terhadap pelaku disabilitas. Bagi pelaku disabilitas itu sendiri pun juga harus memiliki pemikiran yang luas, yakni membuka diri dengan berfikir yang jauh lebih maju. "Setiap kekurangan pasti memiliki kelebihan, saya yakin pasti ada sesuatu yang luar biasa di balik ini semua", contoh kecil inilah yang harus mereka miliki setiap saat. Dan jangan minder serta merasa malu, dunia ini luas. Semangat dan hasilkan karya yang lebih dahsyat dari kebanyakan manusia normal. Hemm ayo rekan-rekan pembaca, teruslah hidup berdampingan dengan kaum minoritas dengan disabilitas ini. Kita yang diberikan kelebihan dan kesempurnaan, bukan diciptakan untuk mengolok-olok, memaki bahkan mencela saudara kita yang tak sempurna itu. Bahkan sebaliknya kita harus hidup berdampingan, bahu membahu, gotongroyong satu sama lain sesuai dengan falsafah negara kita di dalam pancasila "Bhineka Tunggal Ika". Terima kasih kepada rekan-rekan blogger dan kartunet.com yang terus menerus berjuang di dalam artikelnya untuk menyuarakan semangat anti diskriminasi terhadap penyandang disabilitas.

Sunday, November 6, 2011

Nikmatnya Idul Adha


Seperti kebiasaan yang sering terjadi di masyarakat ketika menghadapi musim lebaran haji atau dikenal juga dengan Hari Raya Idul Adha, kita sebagai umat muslim selalu merayakan dengan menyembelih hewan kurban. Alhamdulillah di tempat saya tinggal setiap tahunnya selalu ada hewan yang dikurbankan. Dan tahun ini cukup banyak ada 3 kepala kambing yang dipotong. Usai shalat sunah di masjid, warga yang sudah sampai di rumah kemudian berangkat ke tempat akan dipotongnya kambing dan biasanya terletak di samping mushola kampung. Kambing yang akan dipotong terdiri dari 2 kepala kambing jawa alias bandot dan 1 kepala wedus gembel. Untuk perawatannya pun berbeda yakni jenis wedus gembel bulunya agak tebal namun daging kulit tipis sehingga harus dikelebet atau dikuliti. Sedangkan jenis kambing jawa alias bandot bisa kita kerok bulunya dengan mudah dan bisa kita ambil daging kulitnya untuk dimakan.
Wedus Gembel Sedang dicukur rambutnya

Kambing Jawa/Bandot sedang dikerok rambutnya

Langkah selanjutnya dalam merawat daging yang telah disembelih setelah selesai dicukur kemudian kita gantung bagian kepalanya atau kaki depan. Perlahan dikelupas kulitnya hingga ke ujung ekor dan kemudian dipotong-potong untuk dibagikan kepada warga. Sementara organ dalam terkadang bisa dimasak atau dibuang jika memang tidak suka, kepala kambing biasanya banyak juga yang dimasak atau dibakar dan disantap dengan dicelupkan ke dalam semangkuk sambal pedas kecap.


Tampak sang imam sedang menuliskan siapa saja yang akan dibagikan daging kurban

Sedangkan para pekerja yang lain membagikan daging sejumlah list yang telah dibuat sang imam. Setelah selesai dibagi rata menurut kadar pemerataan, langsung dipacking dan diantarkan ke rumah-rumah warga.



Tampak beberapa warga sedang membagi rata daging kurban


Anak-anak yang turut serta tampak asyik membakar kepala kambing

Setelah semua warga dan para pekerja mendapatkan jatah, kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing untuk memasak daging kurban tersebut. Hemm semoga di tahun depan kita dapat berkurban hewan sapi. Semangat untuk ibadah, seolah ingat seorang psikolog dari Depok. Alhamdulillah ya ka, ku dapat motivasi baru. Dan sebagai motivasi yang lain saya berusaha untuk mewujudkan keinginan berkurban dari hasil jerihpayah sendiri. Aamiin.

Wednesday, November 2, 2011

Pembangunan Berkelanjutan

Setelah sekian lama menantikan kekecewaan akibat jalan rusak serta jembatan penghubung antar desa di Kecamatan Lakbok yang menghubungkan desa Sidaharja dengan Desa Banjarharja, kini bisa bernafas lega dan gembira. Pasalnya jembatan yang rusak bertahun-tahun sedang dilakukan pembangunan ulang serta jalan-jalan yang tadinya seperti kolam ikan pun sudah dilakukan pengaspalan dengan kualitas hotmix. Kerusakan yang terjadi sekian lama tersebut memang menjadi kekecewaan warga khususnya Kecamatan Lakbok, bahkan dalam rencana pemekaran wilayah ini pun menjadi sorotan utama. Karena pembangunan di Kota Banjar khususnya dirasakan sangat cepat walau pajak sedikit lebih mahal dibandingkan dengan Kabupaten Ciamis. Perbedaan ini dinilai karena Kota yang baru melakukan pemekaran sekitar tahun 2004 hanya memiliki 4 kecamatan sedangkan kabupaten yang berslogan "Manis" ini memiliki 20 kecamatan. Ibarat banyak anak tanggungan pun semakin banyak, sehingga pembangunan pun harus bergantian dalam kurun waktu yang lama.


Kita sebagai rakyat kecil hanya bisa menggerutu dan menyalahkan Kepala Desa yang notabene sebagai pimpinan tertinggi di tempat tinggal kita. Hemm sepertinya bisa dimaklumi karena masyarakat awam pengennya jalan enak and kalau rusak harus segera diperbaiki. Namun dalam kenyataan di lapangan, prosedur untuk memperbaiki jalan maupun jembatan yang rusak sudah diserahkan ke Pihak Dinas Perbaikan Jalan